Stimulasi sentuhan calon buah hati

Sampurasun,

Setiap orangtua mendambakan buah hati yang cerdas. Sejak dari dalam kandungan kita sudah dapat merangsang kecerdasan anak kita dengan beberapa stimulasi sederhana dengan sentuhan maupun suara

1. Stimulasi sentuhan (sensorimotorik)

Usia 8 minggu: sensitivitas janin terhadap sentuhan mulai terbentuk

Bagian tubuh pertama yang mulai merasakan sentuhan adalah pipi, telapak tangan dan telapak kaki

Usia 17 minggu perut dan bokong

Usia 32 minggu nyaris seluruh bagian tubuh janin mulai sensitif terhadap panas, dingin, tekanan, rasa geli dan sakit.

Sentuh permukaan perut pada bagian yang menonjol karena desakan tubuh si kecil. Sentuhan harus cukup kuat sehingga bisa dirasakan olehnya

Tak lama biasanya janin akan membalas dengan gerakan menendang, meninju atau sekedar berganti posisi

Selanjutnya sentuh kembali di tempat ia terlihat bergerak

Bersabarlah menunggu munculnya jawaban

 

Merespon tendangan janin

1. Ketika bayi secara spontan menendang perut ibunya, ibu merespon perlahan dengan menepuk tempat yang sama dan berkata “tendang lagi anakku”. Ini melatih refleks janin dalam memahami sentuhan dan suara

2. Setelah janin merespon dengan menendang, kemudian ibu merespon perlahan dengan menepuk tempat yang berlawanan arah dan berkata “Tendang bagian sini anakku”. Setelah janin menendang pada satu sisi tersebut, ibu mengulang rangsangan pada satu sisi lainnya.

3. Memperkenalkan konsep angka. Ibu menepuk perutnya dengan jumlah tertentu dan menantikan janin untuj merespon dengan jumlah tendangan berdasarkan angka yang sama dengan tepukan ibu

Bersambung (stimulasi suara)….

Sumber

Pedoman stimulasi dan nutrisi pengungkit otak (brain booster) pada janin melalui ibu hamil. Kementrian kesehatan RI. Pusat intelegensia kesehatan. Tahun 2014

Continue Reading

You may also like

Stimulasi Bayi Usia 0-3 Bulan

MOTORIK KASAR

  1. Mengangkat kepala 45°
    • Letakkan bayi pada posisi telungkup
    • Gerakkan mainan berwarna cerah
    • Buat suara-suara gembira di depan bayi sehingga ia akan belajar mengangkat kepalanya
    • Secara berangsur-angsur ia akan menggunakan kedua lengannya untuk mengangkat kepala dan dadanya
  2. Menahan kepala tetap tegak dan menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah
    • Gendong bayi dalam posisi tegak agar ia dapat belajar menahan kepalanya tetap tegak
  3.  Berguling
    • Letakkan mainan berwama cerah di dekat bayi agar ia dapat melihat dan tertarik pada mainan tersebut.
    • Kemudian pindahkan benda tersebut ke sisi lain dengan perlahan
    • Awalnya,bayi perlu dibantu dengan cara menyilangkan paha bayi agar badannya ikut bergerak miring sehingga memudahkan bayi berguling.

MOTORIK HALUS

  1. Melihat dan menatap wajah anda
  2. Melihat, meraih dan menendang mainan gantung
    • Gantungkan mainan/benda pada tali diatas bayi dengan jarak 30 cm atau sekitar
      2 jengkal tangan orang dewasa
    • Bayi akan tertarik dan melihat sehingga menggerakkan tangan dan kakinya sebagai reaksi
    • Pastikan benda tersebut tidak bisa dimasukkan ke mulut bayi dan tidak akan terlepas dari ikatan
  3. Merespon dengan tersenyum
  4. Meraba dan memegang benda
    • Letakkan benda/mainan kecil yang berbunyi atau berwarna cerah di tangan bayi
    • Sentuhkan benda tersebut pada punggung jari-jarinya
    • Amati cara ia memegang benda tersebut
    • Hal ini berhubungan dengan suatu gerak reflek, meraba dan merasakan berbagai bentuk
    • Semakin bertambah umur bayi, ia akan semakin mampu memegang benda-benda kecil dengan ujung jarinya (menjepit)
    • Jaga agar benda itu tidak melukai bayi atau tertelan dan membuatnya tersedak

BICARA BAHASA

  1. Mengajak bayi tersenyum
  2. Setiap hari bicara dengan bayi dengan bahasa ibu sesering mungkin
  3. Mengenali berbagai suara
    • Ajak bayi mendengarkan berbagai suara seperti suara orang, binatang, radio dan sebagainya
    • Bayi tidak mendengar dan melihat TV sampai umur 2 tahun.
    • Tirukan ocehan bayi sesering mungkin agar terjadi komunikasi dan interaksi

SOSIALISASI DAN KEMANDIRIAN

  1. Memberi rasa aman dan kasih
  2. Menina bobokan bayi dengan nada lembut
  3. Meniru ocehan dan mimik muka bayi. Selanjutnya bayi akan menirukan anda.
  4. Mengayun untuk menenangkan bayi, sambil bernyanyi dan penuh kasih sayang.
  5. Mengajak bayi mengamati benda-benda dan keadaan disekitarnya.
Continue Reading

You may also like

Permainan anak

Alat permainan edukatif dan kreatif (APEK) adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak, sesuai dengan usia. Tidak harus mahal dan bisa buatan sendiri, dengan kualifikasi:

  1. Aman
  2. Ukuran dan berat sesuai
  3. Disain jelas
  4. Harus dapat dimainkan dengan beragai variasi, jangam terlalu sulit sehingga membuat anak frustasi
  5. Walaupun sederhana tapi menarik warna dan bunyinya
  6. Diterima berbagai kebudayaan
  7. Tidak mudah rusak
  8. Mengembangkan motorik, bahasa, kecerdasan dan sosialisasi

Kesalahan dalam memilih alat permainan

  1. Membelikan terlalu banyak mainan sekaligus
  2. Bentuk indah dan menarik tapi fungsi stimulasi tidak jelas
  3. Terlalu mahal
  4. Terlalu lengkap dan sempurna sehingga kurang bisa dieksplor oleh anak
  5. Tidak memeriksa keamanan

Ciri alat permainan untuk anak di bawah usia 5 tahun

0-12 bulan

Tujuan untuk melatih refleks refleks menggenggam, menghisap. Melatih kerja sama mata tangan, mata telinga. Mencari objek yang ada tetapi tidak kelihatan, mencari sumber asal suara. Melatih kepekaan perabaan. Kerincingan. Melatih keterampilan dengan gerakan berulang ulang. Contoh: Benda yang aman dimasukkan ke mulut atau dipegang (teether). Alat permainan berupa gambar atau bentuk muka.

Usia 1-2 tahun

Tujuan untuk mencari sumber suara, melatih gerakan mendorong dan menarij, imajinasi, kegiatan sehari hari. Contoh gendrang, truk dorong, permainan masak2an, kertas untuk digambar

Usia 2-3 tahun

Tujuan untuk menyalurkan emosi anak, keterampilan berbahasa, melatih motorik halus dan kasar, imajinasi. Contoh lilin yg dapat dibentuk, puzzle sederhana, manik manik besar

Usia 3-5 tahun

Tujuan untuk mengembangkan kemampuan menyamakan membedakan, berbahasa, berhitung, sportivitas, kepercayaan diri, kreativitas, eksperimen pengetahuan sederhana. Contoh majalah anak anak, buku gambar, permainan bersama anak anak sebaya di luar (aktivitas outdoor)

 

 

 

 

 

Continue Reading

You may also like

Stimulasi perkembangan

Penelitian pada binatang menunjukkan bahwa terdapat waktu tertentu ketika anak sangat sensitif terhadap lingkungan. Bayi monyet memerlukan kontak sosial konsisten selama 6 bulan pertama kehidupan kalau tidak maka akan mendapatkan gangguan emosi berat. Masa kritis ini juga terdapat pada proses perkembangan manusia yang diperkirakan terjadi pada masa batita. Masa kritis seseorang untuk belajar bahasa adalah umur 5 tahun dan berakhir pada masa pubertas. Perkembangan sosial emosional tergantung pada pengasuhan papda satu pertama untuk menghindari gangguan perilaku.

Otak bayi baru lahir bekerja lebih lambat daripada otak orang dewasa, yaitu menghantar informasi sekitar 16 kali lebih lambat. Kecepatan saraf memproses informasi meningkat celat selama masa bayi dan anak, serta mencapai kecepatan maksimum pada usia sekitar 15 tahun. Peningkatan ini terutama akibat mielinasasi akson saraf bertahap. Mielinisasi dimulai sejak lahir tercepat pada 2 tahun pertama dan terus berlanjut paling lambat sampai usia 30 tahun.

Pengaruh nutrisi

Perkembangan otak sangat sensitif terhadap gizi terutama antara pertengahan kehamilan sampai 2 tahun pertama kehidupan. ASI mengandung kolesterol tinggi yang diperlukan untuk mielinasasi. Demikian juga kadsr AA dan DHA juga tinggi pada ASI. Dikatakan bahwa anak yang mendapat ASI mempunyai kecerdasan lebih baik karena pengaruh berbagai zat gizi. Dengan menyusu bayi mendapat stimulasi mental yang komprehensif, konsisten dan teratur dari ibunya. Malnutrisi tidak hanya berpengaruh terhadap perkembangan fisik anak melainkan perkembangan mentalnya. Otaknya lebih kecil dari normal karena pertumbuhan dendrit rendag, mielinasasi terhambat, dan produksi sel sel glia lebih sedikit. Pertumbuhan otak yang terhambat tersebut mengakibatkan gangguan perilaku dan kognitif, termasuk gangguan bahasa, motorik halus, IQ rendah dan prestasi rendah

Berat badan lahir dan besarnya otak bergantung pada kualitas dan kuantitas makanan ibu selama hamil. Kenaikan berat badan ibu selama hamil seharusnya sekitar 20% berat badan ideal ibu sebelum hamil agar pertumbuhan bayi adekuat. Karena itu ibu membutuhkan kalori sekitar 300 kkal per hari dan protein ekstra 10-12 gram.

Setelah lahir pertumbuhan otak tergantung pada kualitas dan kuantitas makanan yang diberikan kepadanya. ASI adalah makanan bayi terbaik termasuk suplemen besi (bila diperlukan) di usia 6 bulan. Defisiensi Fe dapat menyebabkan gangguan kognitif pada anak karena Fe sangat penting dalam pembentukan hemoglobin yang diperlukan untuk mengangkut oksigen termasuk ke otak. Demikian pula, untuk pertumbuhan otak dibutuhkan jodium. Pada anak dengan defisiensi jodium atau penderita hipotiroid umumnya kecerdasannya di bawah rata rata.

Pada masa 2 tahun pertama, anak juga perlu makanan yang mengandung lemak yang tinggi yaitu sekitar 50% dari seluruh kalori terutama LCPUFA (AA dan DHA) untuk pertumbuhan otaknya terutama untuk mielinisasi. Setelah umur 2 tahun, komposisi lemak dalam dietnya sekitar 30% saja.

Anak membutuhkan bermacam macam stimulasi. Stimulasi yang diberikan pada anak harus proporsional, baik dalam kualitas maupun kuantitas, dan sesuai dengan tingkat maturitas saraf anak.

Stimulasi sebaiknya dilakukan terhadap semua aspek perkembangan anak, tidak hanya dalam bidang intelektual melainkan emosional dan moral spiritual. Diharapkan pada waktu dewasa kelak selain mempunyai kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi juga mempunyai kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan moral spiritual (SQ) yang tinggi

Macam macam stimulasi

  1. Sensorik: taktil, auditori, visual, bau, rasa
  2. Motorik (locomotion): motorik kasar, halus dan vestibular
  3. Kognitif, intelegensia, kreativitas
  4. Menolong diri sendiri (self help)
  5. Emosi, sosial, kerja sama dan kepemimpinan
  6. Moral spiritual (sopan santun/etika, moral/budi pekerti, agama)
  7. Multi modal (semua aspek perkembangan)

Prinsip stimulasi

  1. Memberikan lingkungan emosional yang positif, seperti cinta kasih sayang dan kehangatan ASIH; bahkan saat bayi masih dalam kandungan. Pola asuh demokratik (authorative) merupakan pola asuh yang memberikan lingkungan positif untuk tumbuh kembang anak
  2. Memberikan makanan bergizi dan perawatan kesehatan adalah salah satu kebutuhan dasar terhadap (ASUH). Pada anak kurang gizi atau sering sakit, pertumbuhan otaknya terganggu, sehingga respons terhadap stimulasi yang diberikan kurang optimal.
  3. Memberikan stimulasi pada semua aspek perkembangan tetapi jangan sekaligus pada saat yang bersamaan (overstimulasi) karena akan membingungkan anak. Stimulasi multisensori/multimodal dapat merangsang hampir semua area pada korteks serebri, dibandingkan stimulasi yang tunggal (unimodal). Stimulasi juga dilakukan pada otak kiri kanan agar seimbang. Kemampuan otak kiri bersifat konvergen (menajam), logik matematik, rasional, linguistik, membaca, menulis. Kemampuan otak kanan bersifat divergen (melebar), imaginasi, kreativitas, seni, musik, menyanyi, sosio emosional, kerja sama, kepemimpinan dan moral spiritual
  4. Memberikan suasana yang kondusif, yaitu menciptakan lingkungan yang wajar, santai dan menyenangkan, dalam suasana bermain, bebas dari tekanan dan hukuman sehingga anak tidak stres. Keadaan ini memacu anak untuk belajar sambil bermain karena pola hidup anak adalah bermain. Selain itu anak perlu diberi imbalan (external reward) seperti pujian, ciuman, tepuk tangan, dan lainnya sebagai imbalan bagi dirinya (internal reward)
  5. Memberikan stimulasi bertahap atau berkesinambungan. Stimulasu yang diberikan tidak boleh terlalu sukar atau mudah, tetapi sesuai tingkat perkembangan anak/maturasi otaknya. Stimulasi dimulai dari kemampuan perkembangan yang telah dipunyai anak, kemudian dilanjutkan pada kemampuan perkembangan yang seharusnya dicapai pada umur tersebut
  6. Memberikan kebebasan pada anak untuk aktif melakukan interaksi sosial. Pada umumnya anak dengan senang hati akan melakukannya dan memperoleh banyak manfaat dalam berinteraksi dengan teman sebayanya
  7. Memicu keterampilan dan minat anak dalam perkembangan mentsl, fisik, estetika dan emosional
  8. Berikan stimulasi setiap hari, kapan saja, yaitu setiap kali bertemu/berinteraksi dengan anak, misal pada waktu mengganti popok, memandikan, memberi makan, sebelum tidur. Stimulasi harus dilakukan teratur dan diulang
  9. Koreksi kalau anak belum mampu melakukan, bukan mencela, mengecam, memarahi atau menghukum
  10. Dalam memberikan stimulasi kenali temperamen masing masing anak karena temperamen anak ada yang mudah dan ada yang sulit
  11. Memberikan kesempatan pada anak untuk aktif memilih berbagai macam kegiatannya sendiri, bervariasi sesuai dengan minat dan kemampuannya, karena setiap anak adalah unik, mereka tau kelemahan dan kekuatan yang ada pada dirinya. Dengan demikian, anak tidak menjadi pasif hanya menunggu perintah. Sebaiknya stimulasi diintegrasikan dalam aktivitas mereka sehari hari
  12. Memberikan kesempatan kepada anak untuk menilai hasil kerjanya dan melakukan modifikasi terhadapnya. Hal ini akan membuat anak lebih kreatif
  13. Bila diperlukan, alat bantu stimulasi harus tidak berbahaya, sederhana, dan mudah dimodifikasi, misal APEK (alat permainan edukatif kreatif). Selain itu alat bantu stimulasi harus bervariasi agar tidak membosankan
  14. Harus diperhatikan rentang intensitas stimulasi, yaitu rangsangan sensoris dan kognitif yang daoat ditoleransi anak, tidak dianjurkan over atau under stimulasi
  15. Harus peka terhadap reaksi anak yang tidak ingin melanjutkan stimulasi, karena anak sudah jenuh atau lelah. Tanda kejenuhan atau lelah antara lain matanya melihat ke arah lain, memalingkan muka, menutup mata, mata mulai tampak sayu/tidak bersinar, anak tampak lesu tidak bergairah
  16. Menangis
  17. Pada anak lebih besar, dapat menunjukkan tanda tands yang lebih baik dengan bahasa verbal maupun non verbal

Stimulasi diberikan sejak dalam kandungan. Respons terhadap stimulasi taktil dan sistem auditori mulai muncul di usia 26 minggu. Stimulasi dapat dilakukan dengan memperdengarkan lagu lagu klasik seperti musik klasik Mozart, membacakan ayat ayat suci sambil mengelus perut ibu dsb

Stimulasi setelah bayi lahir dimulai dengan meletakkan bayi di atas perut ibu dan bayi akan berusaha mencari puting ibu (inisiasi menyusu dini)

 

Continue Reading

You may also like