Isap jempol

Semua bayi terlahir dengan kebiasaan menghisap secara refleks. Bayi menghisap guna memenuhi kebutuhan akan nutrisi (nutritive sucking), yaitu mengisap puting susu ibu atau dot. Seiring dengan pertumbuhannya, bayi akan terbiasa menghisap sebagai usaha untuk mencari ketenangan dan menimbulkan perasaan aman dan senang (nonnutritive sucking), misalnya empeng, ibu jari atau jari lainnya.

Sekitar 80% bayi menghisap ibu jari atau jari jari lainnya, lebih dari setengahnya berhenti spontan pada usia 4-5 tahun. Terdapat 2 refleks penting pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan thumb sucking:

  1. Refleks rooting yaitu gerakan kepala bayi menoleh ke arah objek yang menyentuh pipinya, bisa payudara ibu maupun jari bayi.
  2. Refleks sucking yaitu refleks menghisap yang timbul bila langit langit mulut bayi tersentuh suatu objek. Refleks ini menetap sampai usia 12 bulan

Refleks refleks ini mempunyai arti sebagai interaksi bayi dengan dunia luar sampai berkembangnya cara komunikasi yang lain.

Ada beberapa alasan mengapa thumb sucking dapat berkembang menjadi suatu kebiasaan. Perilaku ini menimbulkan kepuasan emosional, untuk mencari ketenangan atau melepas ketegangan. Beberapa teori psikologi perkembangan dipakai untuk menerangkan kebiasaan thumb sucking ini. Pendapat pertama berdasarkan teori klasik dari Feud yang menganggap thumb sucking sebagai manifestasi seksual infantil yaitu suatu gejala psikopatologi pada bayi selama fase oral.

Pendapat kedua berasal dari teori Erikson. Menurut Erikson, perkembangan mengisap yang normal (nutritive sucking) yang berkembang menjadi suatu kebiasaan thumb sucking mungkin berawal dari penanganan yang tidak sempurna papda fase perkembangan anak sebelumnya. Fase awal perkembangan anak menurut Erikson adalah basic trust. Pada fase ini hubungan orangtua dana anak yang erat akan membantu anak untuk memperkuat kepercayaan terhadap dunia luar di kemudian hari. Fase ini ditandai oleh kecemasan anak bila berpisah dengan orang tua. Sebagai pengganti kenyamanan dan kehangatan orangtua secara tidak disadari (berhubungan dengan nutritive sucking) anak mulai menghisap jarinya. Setelah nutritive sucking berakhir, non nutritive sucking akan melekat menjadi kebiasaan thumb sucking.

Sebagian anak akan menghisap ibu jari menjelang dan selama tidur. Pada anak yang lebih besar, thumb sucking dapat dilakukan ketika anak kelelahan, bosan, frustasi, lapar, stres emosional atau sakit. Pada perkembangan anak tahap lanjut, kebiasaan ini dapat menjadi tanda adanya regresi.

Tatalaksana

Kebanyakan thunb sucking masih dianggap normal dan tidak memerlukan intervensi selama tidak meyebabkan gangguan perkembangan dan gangguan interaksi sosial. Begitu juga, anak yang lebih besar yang hanya sesekali melakukan thumb sucking tidak memerlukan tindakan karena perilaku ini jarang menimbulkan masalah kesehatan.

Umumnya para ahli tidak menganjurkan intervensi terhadap kebiasaan ini sebelum anak berusia 4 sampai 4.5 tahun. Pendekatan tatalaksana ini berdasarkan pada dua alasan.

Pertama ada anggapan bahwa pada kebanyakan kasus kebiasaan thumb sucking inu menghilang secara spontan pada awal pertumbuhan gigi, ketika anak beralih kepada kesenangan lain atau bentuk perilaku yang lebih matang. Data menunjukkan bahwa sekitar 5-10% anak dengan thumb sucking pada usia 5 tahun atau lebih merupakan kebiasaan yang dianggap kronik, kebiasaan ini bisa terjadi di berbagai lokasi yang berbeda dan terjadi pada siang maupun malam.

Kedua alasan psikososial. Kebiasaan ini menyenangkan, mendatangkan kenyamanan, dan menghilangkan ketegangan pada anak anak yang berada dalam dunia yang penuh ketegangan. Kebiasaan ini menetap karena pengulangan secara terus menerus dan anak tidak menyalurkan kesenangannya pada aktivitas lainnya seperti pada anak yang lebih tua. Alasan kedua inu berlebihan karena kebiasaan thumb sucking ini secara tidak sadar belajar dari kebiasaan “kosong”, terjadi ketika tidur, dan tanpa alasan emosional yang mendasari. Penghentian kebiasaan ini tidak membahayakan perkembangan emosional anak dan juga tidak menimbulkan kebiasaan baru seperti menghisap lidah atau menghisap/menggigit bibir.

Penatalaksanaan terhadap thumb sucking harus diberikan bila ada masalah psikologis yang mendasari, gangguan emosi pada anak, ketegangan dalam keluarga, atau masih menetap setelah usia 5 tahun. Beberapa bentuk kebiasaan thumb sucking harus dieliminasi seperti thumb sucking yang berat dan kronik atau bersamaan dengan kebiasaan lain yang harus dihentikan.

Semua intervensi jangan dilakukan secara paksa karena kebiasaan ini tidak memengaruhi kesehatan anak. Menghentikan kebiasaan ini dengan kekerasan akan membuat anak semakin mempertahankannya. Pada beberapa anak kebiasaan ini justru menjadi lebih berat, bahkan mulai beralih sebagau mekanisme mencari perhatian. Pada sebagian kecil thumb sucking, imaturitas emosi muncul kembali. Obyek transisional seperti boneka atau selimut dapat mendatangkan kenyamanan dan menghilangkan ketegangan. Keadaan ini dapat menolong bila anak mengalami stres, ketika anak tersebut masih terlalu muda untuk mengatur emosi mereka. Tantangan bagu dokter spesialis anak, psikolog, dan orangtua adalah membabtu anak mengembangkan kesenangan lain dan bentuk perilaku yang lebih matur.

Metode terapi

Jangan menggunakan kontak fisik, seperti menarik tangan anak dari mulutnya, memukul atau menarik rambut anak. Tindakan seperti ini hanya akan memperburuk keadaan. Anak yang lebuh besar dapat dinasehati. Bicarakan penghentian kebiasaan ini pada saat anak tidak dalam keadaan stres, sedih, ataupun sakit. Berikan peringatan halus pada waktu kebiasaan tersebut berlanjut dan beri penghargaan bila anak tidak melakukannya

Hal yang bisa dicoba

  1. Memasang band aid, thumb guard, atau thumb splints untuk membungkus jarinya
  2. Memakaikan sarung tangan
  3. Memuji dan memberi penghargaan bila mereka tidak menggigit jarinya

Umumnya anak akan menghentikan kebiasaan ini di siang hari sebeluk mereka memasuki usiansekolah. Seringkali kebiasaan ini masih mungkin berlanjut pada malam hari sewaktu anak pergi tidur ataupun saat mereka sedih.

Continue Reading

You may also like

Gerakan Tutup Mulut

Hal hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak yang sulit makan antara lain:

  1. Menetapkan jadual makan dan mentaati jadual tersebut. Anak duduk saat makan dan waktu pemberian makan dibatasi selama sekitar 15 sd 20 menit
  2. Menghindari pengalihan perhatian seperti mainan atau televisi sepanjang waktu makan
  3. Menawarkan porsi yang terbatas untuk masing masing variasi makanan
  4. Memberikan sedikit minuman setelah anak mulai makan. Pemberian susu diberikan setelah anak selesai makan
  5. Tidak memberikan juice buah atau snack diantara waktu makan
  6. Jangan memaksa anak untuk makan. Cobalah untuk tetap tenang. Perasaan netral akan lebih efektif dibandingkan memarahi atau memuji berlebihan

Tatalaksana bersama tim rehabilitasi medis/fisioterapi yang dilakukan pada anak sulit makan antara lain dengan intervensi:

  1. Desensitisasi area mulut
  2. Latihan meningkatkan tonus otot yang digunakan untuk menghisap
  3. Perawatan esofagitis dan refluks gastroesofageal
  4. Pada anak dengan gangguan neurodevelopmental dilakukakan: memposisikan anak agara tonus otot normal, melakukan latihan oral untuk meningkatkan keteramlilan oromotor, terapi perilaku dan pola makan sesuai contoh. Pada anak dengan kelaianan neurodevelopmental berat diperlukan pelatihan buat pengasuhnya tentang tekhnik relaksasi, manajemen waktu dan pengaturan istirahat

Intervensi gizi

Jika anak mengalami kurang gizi, perlu dilakukan koreksi gizi sebelum dilakukan modifikasi perilaku. Kebutuhan energi untuk memperbaiki status gizi dapat dihitung sebagai berikut:

Kkal/kg/hari = [BB ideal sesuai umur (kg) x kkal/kg/hari (BB/U)] : BB sekarang (kg)

Memperbaiki/mengoreksi gangguan gizi yang telah terjadi dapat dilakukan dengan cara:

  1. Melakukan pengelolaan pemberian makan, termasuk memperbaiki jenis dan jumlah makanan yang diberikan, pengaturan jadual dan cara pemberiaan makanan, pengaturan perilaku dan suasana makan anak
  2. Mengoreksi keadaan defisiensi gizi yang ditemukan
  3. Penggunaan obat perangsang nafsu makan sebaiknya dihindari
Continue Reading

You may also like