Temper Tantrum

Temper tantrum (acting out behaviour) adalah:

  1. Perilaku yang mengganggu atau tidak diinginkan, yang terjadi sebagai respons dari keinginan atau kebutuhan yang tidak terpenuhi
  2. Ledakan emosional ketika kepuasan tertunda, kehilangan kendali emosi
  3. Ketidakmampuan untuk mengontrol emosi yang berkaitan dengan penurunan toleransi terhadap frustasi.

Berikut merupakan beberapa contoh perilaku tantrum menurut tingkatan usia:

  1. Di bawah usia 3 tahun: menangis, menggigit, memukul, menendang, menjerit, memekik, melengkungkan punggung, melemparkan badan ke lantai, memukulkan tangan, menahan napas, membenturkan kepala, dan melempar barang.
  2. Umur 3-4 tahun: perilaku tersebut di atas ditambah dengan menghentakkan kaki, berteriak, meninju, membanting pintu, mengkritik, atau merengek
  3. Umur 5 tahun ke atas: ditambah dengan memaki, menyumpah, memukul kakak, adik, atau temannya, mengkritik diri sendiri, memecahkan barang dengan sengaja atau mengancam

Anak yang belum bisa mengendalikan emosinya secara total, misalnya mengamuk, menjerit, menghentakkan kaki dam melemparkan badannya ke lantai kadang kadang sampai tahap tertentu hal tersebut merupakan perkembangan yang normal. Tantrum biasanya hanya ditujukan kepada orang tuanya. Hal ini merupakan cara yang dilakukan untuk mengungkapkan perasaannya. Orangtua harus mengetahui bagaimana cara menangani tantrum jika hal itu terjadi dan bagaimana cara mencegahnya. Hampir semua anak pernah mengalami tantrum, tetapi pada umur 4 tahun pengendalian diri sebagian besar anak sudah mulai berkembang dan tantrum berhenti dengan sendirinya.

Tantrum adalah rasa marah yang diekspresikan secara imatur, yaitu bila anak mengungkapkan emosinya sebelum mencapau perkembangan emosi anak seusianya. Tidak peduli apakah orang tuanya adalah orang tua yang sabar dan baik hati, anak bisa mengalami masalah tantrum. Saat anak menginjak umur 3 tahun, orang tua bisa mengajarkan kepada anak mereka untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan (“kamu marah karena…”). Orangtua perlu mengajarkan kepada anak bahwa marah itu normal, tetapi harus memiliki korelasi dengan perasaan yang dirasakan. Orangtua harus memperkenalkan berbagai macam emosi pada anak dan mengajarkan kepada mereka bagaimana mengelola perasaannya itu. Misalkan dengan menghitung angka sampai 10 dapat membantu mereka untuk mengontrol perasaan marah tersebut. Pada usia sekolah tantrum jarang terjadi.

Tantrum sering ditemukan lada anak anak yang terlampau dimanjakan (overindulgent), orangtua terlampau pencemas (oversolicitous), atau terlalu melindungi (overprotective). Walaupun tantrum pada mulanya merupakan perasaan tidak senang pada perlakuan fisik, tantrum juga dimaksudkan sebagai suatu usaha untuk mendapatkan hadiah-hadiah (gratifications), atau menguasai keluarganya melalui cetusan marah (outburst), atau merupakan suatu hasil meniru dari orangtua atau anggota keluarga lainnya.

Tantrum biasanya terjadi pada umur 18 bulan-4 tahun. Tantrum ini disebut otonomi diri, yaitu rasa mampu berbuat sesuai kehendak (autonomy of shame and doubt). Pada umur 1-3 tahun, timbul beberapa kebebasan dari ketergantungan total pada orang tua. Kebebasan fisik berupa mulai belajar berjalan dan berlari. Banyak orangtua terkejut dengan bagaimana begitu cepat anak mereka yang sempurna dan bahagia menjadi pemarah. Orangtua perlu memerika apa yang terjadi, yang menyebabkan perubahan perilaku secara mendadak tersebut. Tantrum menjadi lebih buruk dan lebih sering terjadi akibat dari beberapa alasan berikut:

  1. Lapar. Anak lapar akan menjadi galak dan sulit ditenangkan
  2. Sangat kelelahan/mengantuk. Anak yang tidak tidur siang atau tidak mendapatkan tidur cukup pada malam sebelumnya biasanya akan lebih mudah marah
  3. Tidak berdaya. Anak yang tidak mampu untuk menyelesaikan tugasnya (mengancingkan baju, menumpuk balok) akan merasa gagal dan kecewa.
  4. Perubahan mendadak. Anak yang dipaksa berubah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya lebih mudah menjadi marah dan bertingkah laku berlebihan
  5. Mencari perhatian. Seorang anak yang tidak mendapatkan perhatian saat marah kadang dapat membentuk kebiasaan memiliki tantrum
  6. Tidak mendapatkan benda yang diinginkan, membuat anak kecewa atau tersinggung
  7. Benda miliknya diambil secara paksa
  8. Orangtua tidak mengerti apa yang diinginkan atau dikatakan oleh anak membuatnya frustasi. Demikian jika anak tidak mengerti yang dikatakan orangtua.
  9. Anak yang merasa cemas, tertekan atau terganggu
  10. Ketidakmampuan memecahkan masalah mengakibatkan anak kecewa.

Pada umumnya bila kebutuhan emosional dan fisik seorang anak terpenuhi anak jarang bertingkah laku berlebihan

Tatalaksana

Bagaimanapun baiknya orangtua memenuhi kebutuhan fisik dan emosional anak, tetap ada kemungkinan anaknya mengalami tantrum. Jarang anak bertingkah laku berlebihan untuk membuat orangtuanya marah. Perilaku itu mungkin membuat dia sendiri juga takut.

Pada umur tertentu, anak menggunakan tantrum untuk berekspresi. Anak tidak mengetahui bagaimana cara mengekspresikan keinginan mereka. Dengan kesabaran dan cintaa, orangtua dapat membantu anaknya untuk mengekspresikan keinginan mereka melalui kata kata dan menunjukkan kemarahan melalui cara yang sesuai.

Beberapa cara untuk mengontrol tantrum:

  1. Orangtua tetap tenang. Mungkin hal ini sulit untuk dilakukan, tetapi orangtua sebaiknya tetap tenang dan memegang kendali. Hal ini membantu orangtua mengingatkan diri bahwa tantrum adalah hal yang alami dan bukan merupakan suatu reaksi yang buruk untuk mengungkapkan rasa frustasi dan kemarahan. Orangtua marah hanya akan membuat anak tambah binging dan frustasi
  2. Jangan mengubah tidak menjadi ya. Jangan mengubah keputusan yang telah dibuat hanya untuk membuat anak menghentikan tingkah laku tantrumnya. Mengatakan ya hanya akan memberi pemulihan yang bersifat sementara tetapi kekuatan anak akan bertambah karena diizinkan dan akan membuatnya semakin sukit untuk dikendalikan di kemudian hari. Anak akan memeperoleh manfaat bila memiliki orangtua yang menjalankan aturan. Anak harus tahu siapa yang memegang kendali. Bersifat hangat, sungguh-sungguh, dan konsisten adalah dasar dalam membesarkan anak.
  3. Memindahkan anak. Jika anak mengalami tantrum pads tempat keramaian pindahkan anak ke tempat lain yang lebih tenang. Tantrum anak ini dapat menganggu dan memalukan dan tidak ada gunanya untuk membiarkannya tetap di sana. Orangtua dan anak mungkin dapat duduk di dalam mobil sampai anak tenang atau pulang ke rumah
  4. Orangtua yang memindahkan diri. Jika anak ada di tempat yamg aman (misalnya kamar tidur), tinggalkan anak selama beberapa menit dan biarkan dia menjadi tenang. Tanpa penonton untuk “pertunjukannya”, anak akan lebih mudah berhenti
  5. Tenangkan anak. Jika anak mulai menyakiti dirinya selama tantrum (misal memukulkan kepala di lantai), orangtua harus menghentikan setenang mungkin. Tenangkan anak dan selama memeluknya katakan “kamu sangat marah saat ini. Ayah atau ibu tidak akan membiarkanmu melukai diri sendiri. Ayah dan ibu disini dan kami mencintaimu.”
  6. Bicarakan sesudahnya. Jangan mencoba bicara pada anak tentang kelakuannya ketika dia marah. Tunggu sampai tantrumnya hilang, lalu diskusikan dengan anak bagaimana cara mengendalikan marah dan frustasi
  7. Jangan mencoba berbincang untuk meyakinkan anak sepanjang ledakan kemarahannya. Perasaan anak seperti laut emosi yang mendidih, tidak dalam keadaan mental yang siap untuk mendengarkan logika atau alasan.
  8. Jangan mengancam dengan hukuman

Beberapa sikap di bawah ini dapat dicoba pada tipe tipe tantrum yang berbeda:

  1. Berikan dukungan dan bantuan jika anak mengalami frustasi atau mengalami kelelahan akibat tantrum (fatigue related tantrum)
  2. Jangan terlalu memberikan perhatian bila anak mengalami tantrum untuk menarik perhatian (attention seeking) atau mengalami tantrum untuk menuntut sesuatu (demanding type tantrum)
  3. Secara fisik anak anak mengalami tantrum karena merasa dirinya ditolak (refusal type tantrum atau avoidance type tantrum)
  4. Jangan biarkan anak terlalu lama mengalami tantrum yang merusak (disruptive type tantrum)
  5. Pegangilah anak disaat mengalami tantrum yang berbahaya (harmful type tantrum)

Pencegahan

  1. Membiaskan makan tidur secara rutin. Tidak berpergian terlalu jauh/lama. Menghindari telat makan atau kurang tidur
  2. Anak diizinkan untuk memiliki suatu mainan
  3. Menjelaskan apa yang bisa anak lakukan dan jangn diharapkan sesuatu yang sempurna dari anak
  4. Membantu anak untuk mencegah frustasi. Anak dipersiapkan untuk suatu perubahan atau suatu kejadian dengan membicarakannya terlebih dahulu sebelum hal itu terjadi
  5. Membiarkan anak mengetahui aturan yang telah disepakati
  6. Membantu agar anak dapat menerima kekecewaan kecil tanpa berteriak menangis atau tindakan lain yang merusak
  7. Menciptakan coping skills dengan memberikan anak beberapa latihan untuk menunjukkan bagaimana mereka dapat menenangkan dirinya sendiri dan membiarkan anak berhadapan dengan problem sehari hari/frustasinya
  8. Menunjukkan dukungan dan reinforcement terhadap coping skills anak
  9. Ketika telah menemukan inti permasalahan, diharapkan anak dapat mencari jalan untuk mengekspresikan kemarahan secara lebih produktif di masa yang akan datang. Bila orangtua dapat mengajarkan hal hal tersebut secara baik, anak akan dapat mengontrol aktivitasnya dan mempunyai kadar resting cathecolamines yang memadai, sehingga lebih sedikir episode tantrum dan impulsivitas
  10. Mendorong anak untuk menggunakan kata dalam mengungkapkan perasaanya
  11. Mempertahankan kegiatan rutin harian
  12. Menghindari situasi yang membuat anak frustasi
Continue Reading

You may also like