Perkembangan bahasa

Kemampuan bicara memerlukan keterampilan intelektual dan motorik, jadi tidak hanya merupakan koordinasi otot otot pembentuk suara tapi juga kemampuan mengaitkan arti dari bunyi yang dihasilkan.

Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak, karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kelainan pada sistem lainnya, seperti kemampuan kognitif, sensorimotor, psikologis, emosi, dan lingkungan di sekitar anak. Rangsangan sensoris yang berasal dari pendengaran (auditory expressive & receptive language development) sangat penting dalam perkembangan bahasa. Seorang anak tidak akan mampu berbicara tanpa dukungan lingkungannya. Mereka harus mendengar dan melihat pembicaraan yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari maupun pengetahuan tentang dunia di sekitarnya. Mereka harus belajar mengekspresikan diri, membagi pengalaman dengan orang lain, dan mengemukakan keinginannya.

Menurut teori neuropsikolinguistik, berbahasa adalah interaksi yang kompleks antara fungsi otak (korteks serebri), semantik dan pragmatik, fonologi, grammar dan organ yang memproduksi bahasa. Sistem ini saling berhubungan, bila salah satu mengalami masalah akan terjadi gangguan bicara. Salah satu petunjuk untuk menilai kepandaian anak berbicara adalah rumus 4S, yaitu umur anak dibagu 4 (dalam tahun) merupakan proporsi kata yang bisa dipahami pendengar dari seluruh kata kata yang diucapkan oleh anak. Anak umur 1 tahun sebanyak 1/4 S, artinya seperempat kalimat yg diucapkan dimengerti pendengar.

Keterampilan mengartikulasikan suara juga mengikuti pola tertentu. Yang pertama kali muncul adalah suara paling mudah, yaitu suara bibir (dinyatakan dalam huruf m, p, b, v, o). Berikutnya yang terdengar adalag suara sederhana yang dihasilkan oleh lidah dan gusi (d, n, t). Ketika anak mulai menguasai kontak lidah palatum (g, k, ng), sering mereka bingung membedakan d dengan g, serta t dengan k, terutama bila keduanya muncul dalam 1 kata (misalnya dagu diucapkan dadu atau gagu). Jenis duplikasi fonetik ini sering terjadi pada umur 2 tahun dan dapat terjadi pada umur 3 tahun. Ketika anaj belajar membuat perbedaan suara, mereka juha belajar mengendalikan motorik untuk pola bicara yang lebih kompleks dan daoat mengucapkan huruf f, v, s, dan z. Karena suara suara itu mirip, anak umur 3 tahun dapat keliru menyebut f untuk s atau v untuk z.

Pengendalian untuk berbagau bunyi ucapan biasanya dikuasai lebih dulu pad awal kata kata. Anak umur 2 tahun mungkin menghilangkan suara pada akhir kata; anak umur 3 tahun dapat terpeleset pada bunyi di tengah kata, dan anak umur 4-5 tahun dapat mengalami kesulitan dengan kata yang lebih kompleks. Kesalahan artikulasi dapat terjadi sampai batas umur 7 tahun. Anak umur 4 tahun adalah penerima bahasa ibu yang baik, walaupun masih terdapat kesalahan artikulasi, tetapi ucapannya cukup dapat dimengerti dan telah menguasai dasar sintaks, fonetik, dan semantik (arti kata).

Tahapan Perkembangan Bahasa

  1. Reflective vocalization. Pada bayi baru lahir, dengan caranya sendiri, bayi akan “berbicara”. Pada umur ini, bayi masih belum mampu membedakan berbagai macam stimuli dari luar serta belum mampu bereaksi secara spesifik terhadap stimuli yang berbeda beda, sehingga bayi akan menangis terhadap semua stimuli yang diterimanya. Tangusan bayi dan vokalisasi selama 2-3 minggu pertama dalam hiduonya bersifat reflektif. Vokalisasi terjadi akibat udara yang secara refleks keluar dari paru lewat pita suara sehingga terbentuk suara. Suara yang terbentuk tidak mempunyai arti sama sekali. Pada akhir minggu kedua atau ketiga, ibu sudah dapat membedakan arti tangisan bayi. Bayi sudah dapat memberikan reaksi berbeda terhadap stimuli yang diterimanya, sudah ada rasa tertarik terhadap wajah dan orang sekitarnya, karena sudah mulai terjadu maturasi baik fisik maupun mental. Pada umur 2-4 bulan, bayi sudah bisa cooing (seperti suara burung merpati)
  2. Babbling. Pada umur 6-7minggu, bayi sudah mulai menunjukkan reaksi terhadap suara yang dibuatnya. Bayi menyenangi suaranya dan menghibur dirinya dengan suara. Coos gurgles, dan permainan suara umum lainnya akana diikuti oleh perkembangan bicara baru yang disebut babbling pada umur sekitar 4-9 bulan. Suara yang ditimbulkan bermacam-macam, mukai dari vokal lalu konsonan, dan kombinasi keduanya. Vokal seperti “a” akan diulang ulang dalam nada dan kekerasan yang berbeda. Kemudian muncul suara konsonan labial “p” dan “b” (guttural), “g” (dental), dan terakhir nasal “n”. Pada umur 6 bulan bayi sudah memberikan reaksi kalau dipanggil namanya atau menoleh ke arah sumber suara.
  3. Lalling. Sampai dengan tahap babbling, perkembangan pendengaran dan bahasa sama pada anak tuli dan anak yang tidak tuli. Karena masih bersifat reflektif dan respons terhadap stimuli internal, babbling terjadi baik pada anak yang tuli maupun yang tidak tuli. Setelah tahapan babbling, akan terjadi perbedaan perkembangan bahasa antara anak tuli dan tidak tuli. Mulai dari tahapan lalling, pendengaran mempunyai peran penting. Lalling adalah pengulangan (repetition) suara atau kombinasi suara yang didengar seperti ba-ba, ma-ma, gub-gub. Lalling biasanya mulai pada sekitar umur 6 bulan. Pada lalling, yang penting adalah terdapat hubungan yang bermakna antara produksi suara dan pendengaran.
  4. Echolalia. Sekitar umur 9-10 bulan, anak sudah bisa meniru (imitation) suara yang dibuat orang lain dan suara yang sering didengarnya. Pada tahapan lalling, yang akan ditiru pertama kalo adalah suara yang dimengerti anak. Pada saat ini, anak sudah siap untuk menirukan segala macam suara. Mereka akan memilih suara mana yang mudah untuk ditiru dan yanh tidak mudah ditiru (suara yang membingungkan).
  5. True speech. Pada sekitar umur 12-13 bulan, rata rata anak sudah mulai bisa bicara. Ada anak yang lambat, ada anak yang cepat bicara. Yang dimaksud bicara adalah anak dengan sengaja menggunakan pola bunyi konvensional (kata-kata), yang merupakan respons terhadap situasi tertentu dari lingkungannya. Sebelim anak bisa bicara, anak harus mengerti dulu apa yang dikatakan orang lain (verbal understanding). Keadaan ini menunjukkan bahwa anak telah merespon baik secara mental maupun motorik terhadap kata kata yang diucapkan orang lain. Kalau anak mampu mengerti (verbal understanding), mereka akan lebih cepat untuk dapat berbicara.

Pada anak usia 18-24 bulan, kadang kadang kosa katanya telah mencapai 30-60 kata dan kecepatan anak dalam mempelajari bahasa meningkat dramatis. Anak belajar rata rata 3-4 kata per hari, dan mulai mengkombinasikan kata ke dalam suatu frase yang terdiri dari 2 kata. Ketika kalimat panjang bertambah, anak mulai menguasai elemen struktur bahasa lebih spesifik, termasuk kata ganti, kata tanya, dan kata kerja. Pada umur 3 tahun, pemahamannya sudah sangat baik, yaitu anak sudah dapat membuat kalimat terdiri dari 3 atau beberapa suku kata, anak mulai bertanya dengan menggunakan kata tanya “apa”, kemudian menggunakam kata tanya “mengapa”, dan akhirnya anak dapat terlibat dalam percakapan singkat. Pada umur 4-5 tahun, anak dapat menyusun kalimat yang kompleks, berpartisipasi dalam percakapan yang lebih bermakna, dan menuturkan cerita singkat.

Continue Reading

You may also like