Stimulasi Anak Usia 5-6 Tahun

MOTORIK KASAR

Tahap Perkembangan:

  1. Berjalan lurus
  2. Berdiri  1 kaki (11 detik).

Stimulasi:

  1. Bermain bola bersama, berlari, lompat satu kaki, lompat jauh dsb
  2. Ajari naik sepeda
  3. Bermain sepatu roda

MOTORIK HALUS

Tahapan Perkembangan

  1. Menggambar dengan 6 bagian tubuh
  2. Menggambar orang lengkap
  3. Belajar menulis namanya sendiri
  4. Belajar angka
  5. Belajar waktu (jam, bulan, hari)

Stimulasi

  1. Berlatih mengenal angka 1-6, kemudian 7-10. Tulis setiap angka tersebut pada potongan kertas kecil. Perlihatkan kemudian letakkan terbalik. Minta anak menunjuk kertas dan menyebut angkanya. Bila anak sudah menguasai permainan ini, tambahkan jumlah potongan kertas bertuliskan angka.
  2. Buat agar anak mempunyai hobi tertentu seperti mengumpulkan perangko, mainan binatang, tutup botol, batu-batu indah. Bantu anak menghitung benda-benda yang dikumpulkan dan
    menyusunnya dengan rapi
  3. Belajar memasak. Ajak memasak sebuah resep sederhana. Bicarakan tentang menimbang dan mengukur bahan-bahan serta mengaduk adonan

BICARA BAHASA

Tahapan perkembangan
1. Mengerti lawan kata.
2. Mengenal warna-warni.
3. Mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih.
4. Mengenal angka, bisa menghitung angka 5 -10.

Stimukasi

1. Bermain tebak-tebakan. Minta anak menebak/menyebutkan nama benda yang ada didekatnya.

2. Berlatih mengingat-ingat.

3, Menjawab pertanyaan “mengapa?” Ajari anak menjawab pertanyaan dengan “Mengapa?” misalnya “Mengapa rumah mempunyai atap?” “Mengapa kita menyikat gigi?” “Mengapa kita makan?” “Mengapa mobil mempunyai roda?”

4. Ajari anak anda mengenal berbagai jenis uang logam. Mulai dengan mengajak anak memilih uang logam Rp 100,-. Selanjutnya, ajari anak membedakan uang logam dengan nilai rupiah yang berbeda. Minta anak mengelompok beberapa uang logam dan menyebutkan nilainya.

SOSIALISASI DAN KEMANDIRIAN

Tahapan Perkembangan
1. Mengungkapkan simpati.
2. Mengikuti aturan permainan.
3. Berpakaian sendiri tanpa dibantu.

Stimulasi

  1. Ajak anak berbicara tentang apa yang dirasakan anak. Tunjukkan bahwa anda mengerti pembicaraan anak dengan mengulangi apa yang dikatakannya.
  2. Pada umur ini anak-anak senang sekali bergaul dan membutuhkan teman sebaya untuk bermain. Ajari anak dalam memakai kata-kata yang tepat ketika menyampaikan maksudnya pada teman temannya. Buat agar anak memakai kata-kata dalam memecahkan masalah dan bukannya dengan memukul atau mendorong.
Continue Reading

You may also like

Stimulasi perkembangan

Penelitian pada binatang menunjukkan bahwa terdapat waktu tertentu ketika anak sangat sensitif terhadap lingkungan. Bayi monyet memerlukan kontak sosial konsisten selama 6 bulan pertama kehidupan kalau tidak maka akan mendapatkan gangguan emosi berat. Masa kritis ini juga terdapat pada proses perkembangan manusia yang diperkirakan terjadi pada masa batita. Masa kritis seseorang untuk belajar bahasa adalah umur 5 tahun dan berakhir pada masa pubertas. Perkembangan sosial emosional tergantung pada pengasuhan papda satu pertama untuk menghindari gangguan perilaku.

Otak bayi baru lahir bekerja lebih lambat daripada otak orang dewasa, yaitu menghantar informasi sekitar 16 kali lebih lambat. Kecepatan saraf memproses informasi meningkat celat selama masa bayi dan anak, serta mencapai kecepatan maksimum pada usia sekitar 15 tahun. Peningkatan ini terutama akibat mielinasasi akson saraf bertahap. Mielinisasi dimulai sejak lahir tercepat pada 2 tahun pertama dan terus berlanjut paling lambat sampai usia 30 tahun.

Pengaruh nutrisi

Perkembangan otak sangat sensitif terhadap gizi terutama antara pertengahan kehamilan sampai 2 tahun pertama kehidupan. ASI mengandung kolesterol tinggi yang diperlukan untuk mielinasasi. Demikian juga kadsr AA dan DHA juga tinggi pada ASI. Dikatakan bahwa anak yang mendapat ASI mempunyai kecerdasan lebih baik karena pengaruh berbagai zat gizi. Dengan menyusu bayi mendapat stimulasi mental yang komprehensif, konsisten dan teratur dari ibunya. Malnutrisi tidak hanya berpengaruh terhadap perkembangan fisik anak melainkan perkembangan mentalnya. Otaknya lebih kecil dari normal karena pertumbuhan dendrit rendag, mielinasasi terhambat, dan produksi sel sel glia lebih sedikit. Pertumbuhan otak yang terhambat tersebut mengakibatkan gangguan perilaku dan kognitif, termasuk gangguan bahasa, motorik halus, IQ rendah dan prestasi rendah

Berat badan lahir dan besarnya otak bergantung pada kualitas dan kuantitas makanan ibu selama hamil. Kenaikan berat badan ibu selama hamil seharusnya sekitar 20% berat badan ideal ibu sebelum hamil agar pertumbuhan bayi adekuat. Karena itu ibu membutuhkan kalori sekitar 300 kkal per hari dan protein ekstra 10-12 gram.

Setelah lahir pertumbuhan otak tergantung pada kualitas dan kuantitas makanan yang diberikan kepadanya. ASI adalah makanan bayi terbaik termasuk suplemen besi (bila diperlukan) di usia 6 bulan. Defisiensi Fe dapat menyebabkan gangguan kognitif pada anak karena Fe sangat penting dalam pembentukan hemoglobin yang diperlukan untuk mengangkut oksigen termasuk ke otak. Demikian pula, untuk pertumbuhan otak dibutuhkan jodium. Pada anak dengan defisiensi jodium atau penderita hipotiroid umumnya kecerdasannya di bawah rata rata.

Pada masa 2 tahun pertama, anak juga perlu makanan yang mengandung lemak yang tinggi yaitu sekitar 50% dari seluruh kalori terutama LCPUFA (AA dan DHA) untuk pertumbuhan otaknya terutama untuk mielinisasi. Setelah umur 2 tahun, komposisi lemak dalam dietnya sekitar 30% saja.

Anak membutuhkan bermacam macam stimulasi. Stimulasi yang diberikan pada anak harus proporsional, baik dalam kualitas maupun kuantitas, dan sesuai dengan tingkat maturitas saraf anak.

Stimulasi sebaiknya dilakukan terhadap semua aspek perkembangan anak, tidak hanya dalam bidang intelektual melainkan emosional dan moral spiritual. Diharapkan pada waktu dewasa kelak selain mempunyai kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi juga mempunyai kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan moral spiritual (SQ) yang tinggi

Macam macam stimulasi

  1. Sensorik: taktil, auditori, visual, bau, rasa
  2. Motorik (locomotion): motorik kasar, halus dan vestibular
  3. Kognitif, intelegensia, kreativitas
  4. Menolong diri sendiri (self help)
  5. Emosi, sosial, kerja sama dan kepemimpinan
  6. Moral spiritual (sopan santun/etika, moral/budi pekerti, agama)
  7. Multi modal (semua aspek perkembangan)

Prinsip stimulasi

  1. Memberikan lingkungan emosional yang positif, seperti cinta kasih sayang dan kehangatan ASIH; bahkan saat bayi masih dalam kandungan. Pola asuh demokratik (authorative) merupakan pola asuh yang memberikan lingkungan positif untuk tumbuh kembang anak
  2. Memberikan makanan bergizi dan perawatan kesehatan adalah salah satu kebutuhan dasar terhadap (ASUH). Pada anak kurang gizi atau sering sakit, pertumbuhan otaknya terganggu, sehingga respons terhadap stimulasi yang diberikan kurang optimal.
  3. Memberikan stimulasi pada semua aspek perkembangan tetapi jangan sekaligus pada saat yang bersamaan (overstimulasi) karena akan membingungkan anak. Stimulasi multisensori/multimodal dapat merangsang hampir semua area pada korteks serebri, dibandingkan stimulasi yang tunggal (unimodal). Stimulasi juga dilakukan pada otak kiri kanan agar seimbang. Kemampuan otak kiri bersifat konvergen (menajam), logik matematik, rasional, linguistik, membaca, menulis. Kemampuan otak kanan bersifat divergen (melebar), imaginasi, kreativitas, seni, musik, menyanyi, sosio emosional, kerja sama, kepemimpinan dan moral spiritual
  4. Memberikan suasana yang kondusif, yaitu menciptakan lingkungan yang wajar, santai dan menyenangkan, dalam suasana bermain, bebas dari tekanan dan hukuman sehingga anak tidak stres. Keadaan ini memacu anak untuk belajar sambil bermain karena pola hidup anak adalah bermain. Selain itu anak perlu diberi imbalan (external reward) seperti pujian, ciuman, tepuk tangan, dan lainnya sebagai imbalan bagi dirinya (internal reward)
  5. Memberikan stimulasi bertahap atau berkesinambungan. Stimulasu yang diberikan tidak boleh terlalu sukar atau mudah, tetapi sesuai tingkat perkembangan anak/maturasi otaknya. Stimulasi dimulai dari kemampuan perkembangan yang telah dipunyai anak, kemudian dilanjutkan pada kemampuan perkembangan yang seharusnya dicapai pada umur tersebut
  6. Memberikan kebebasan pada anak untuk aktif melakukan interaksi sosial. Pada umumnya anak dengan senang hati akan melakukannya dan memperoleh banyak manfaat dalam berinteraksi dengan teman sebayanya
  7. Memicu keterampilan dan minat anak dalam perkembangan mentsl, fisik, estetika dan emosional
  8. Berikan stimulasi setiap hari, kapan saja, yaitu setiap kali bertemu/berinteraksi dengan anak, misal pada waktu mengganti popok, memandikan, memberi makan, sebelum tidur. Stimulasi harus dilakukan teratur dan diulang
  9. Koreksi kalau anak belum mampu melakukan, bukan mencela, mengecam, memarahi atau menghukum
  10. Dalam memberikan stimulasi kenali temperamen masing masing anak karena temperamen anak ada yang mudah dan ada yang sulit
  11. Memberikan kesempatan pada anak untuk aktif memilih berbagai macam kegiatannya sendiri, bervariasi sesuai dengan minat dan kemampuannya, karena setiap anak adalah unik, mereka tau kelemahan dan kekuatan yang ada pada dirinya. Dengan demikian, anak tidak menjadi pasif hanya menunggu perintah. Sebaiknya stimulasi diintegrasikan dalam aktivitas mereka sehari hari
  12. Memberikan kesempatan kepada anak untuk menilai hasil kerjanya dan melakukan modifikasi terhadapnya. Hal ini akan membuat anak lebih kreatif
  13. Bila diperlukan, alat bantu stimulasi harus tidak berbahaya, sederhana, dan mudah dimodifikasi, misal APEK (alat permainan edukatif kreatif). Selain itu alat bantu stimulasi harus bervariasi agar tidak membosankan
  14. Harus diperhatikan rentang intensitas stimulasi, yaitu rangsangan sensoris dan kognitif yang daoat ditoleransi anak, tidak dianjurkan over atau under stimulasi
  15. Harus peka terhadap reaksi anak yang tidak ingin melanjutkan stimulasi, karena anak sudah jenuh atau lelah. Tanda kejenuhan atau lelah antara lain matanya melihat ke arah lain, memalingkan muka, menutup mata, mata mulai tampak sayu/tidak bersinar, anak tampak lesu tidak bergairah
  16. Menangis
  17. Pada anak lebih besar, dapat menunjukkan tanda tands yang lebih baik dengan bahasa verbal maupun non verbal

Stimulasi diberikan sejak dalam kandungan. Respons terhadap stimulasi taktil dan sistem auditori mulai muncul di usia 26 minggu. Stimulasi dapat dilakukan dengan memperdengarkan lagu lagu klasik seperti musik klasik Mozart, membacakan ayat ayat suci sambil mengelus perut ibu dsb

Stimulasi setelah bayi lahir dimulai dengan meletakkan bayi di atas perut ibu dan bayi akan berusaha mencari puting ibu (inisiasi menyusu dini)

 

Continue Reading

You may also like

Temper Tantrum

Temper tantrum (acting out behaviour) adalah:

  1. Perilaku yang mengganggu atau tidak diinginkan, yang terjadi sebagai respons dari keinginan atau kebutuhan yang tidak terpenuhi
  2. Ledakan emosional ketika kepuasan tertunda, kehilangan kendali emosi
  3. Ketidakmampuan untuk mengontrol emosi yang berkaitan dengan penurunan toleransi terhadap frustasi.

Berikut merupakan beberapa contoh perilaku tantrum menurut tingkatan usia:

  1. Di bawah usia 3 tahun: menangis, menggigit, memukul, menendang, menjerit, memekik, melengkungkan punggung, melemparkan badan ke lantai, memukulkan tangan, menahan napas, membenturkan kepala, dan melempar barang.
  2. Umur 3-4 tahun: perilaku tersebut di atas ditambah dengan menghentakkan kaki, berteriak, meninju, membanting pintu, mengkritik, atau merengek
  3. Umur 5 tahun ke atas: ditambah dengan memaki, menyumpah, memukul kakak, adik, atau temannya, mengkritik diri sendiri, memecahkan barang dengan sengaja atau mengancam

Anak yang belum bisa mengendalikan emosinya secara total, misalnya mengamuk, menjerit, menghentakkan kaki dam melemparkan badannya ke lantai kadang kadang sampai tahap tertentu hal tersebut merupakan perkembangan yang normal. Tantrum biasanya hanya ditujukan kepada orang tuanya. Hal ini merupakan cara yang dilakukan untuk mengungkapkan perasaannya. Orangtua harus mengetahui bagaimana cara menangani tantrum jika hal itu terjadi dan bagaimana cara mencegahnya. Hampir semua anak pernah mengalami tantrum, tetapi pada umur 4 tahun pengendalian diri sebagian besar anak sudah mulai berkembang dan tantrum berhenti dengan sendirinya.

Tantrum adalah rasa marah yang diekspresikan secara imatur, yaitu bila anak mengungkapkan emosinya sebelum mencapau perkembangan emosi anak seusianya. Tidak peduli apakah orang tuanya adalah orang tua yang sabar dan baik hati, anak bisa mengalami masalah tantrum. Saat anak menginjak umur 3 tahun, orang tua bisa mengajarkan kepada anak mereka untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan (“kamu marah karena…”). Orangtua perlu mengajarkan kepada anak bahwa marah itu normal, tetapi harus memiliki korelasi dengan perasaan yang dirasakan. Orangtua harus memperkenalkan berbagai macam emosi pada anak dan mengajarkan kepada mereka bagaimana mengelola perasaannya itu. Misalkan dengan menghitung angka sampai 10 dapat membantu mereka untuk mengontrol perasaan marah tersebut. Pada usia sekolah tantrum jarang terjadi.

Tantrum sering ditemukan lada anak anak yang terlampau dimanjakan (overindulgent), orangtua terlampau pencemas (oversolicitous), atau terlalu melindungi (overprotective). Walaupun tantrum pada mulanya merupakan perasaan tidak senang pada perlakuan fisik, tantrum juga dimaksudkan sebagai suatu usaha untuk mendapatkan hadiah-hadiah (gratifications), atau menguasai keluarganya melalui cetusan marah (outburst), atau merupakan suatu hasil meniru dari orangtua atau anggota keluarga lainnya.

Tantrum biasanya terjadi pada umur 18 bulan-4 tahun. Tantrum ini disebut otonomi diri, yaitu rasa mampu berbuat sesuai kehendak (autonomy of shame and doubt). Pada umur 1-3 tahun, timbul beberapa kebebasan dari ketergantungan total pada orang tua. Kebebasan fisik berupa mulai belajar berjalan dan berlari. Banyak orangtua terkejut dengan bagaimana begitu cepat anak mereka yang sempurna dan bahagia menjadi pemarah. Orangtua perlu memerika apa yang terjadi, yang menyebabkan perubahan perilaku secara mendadak tersebut. Tantrum menjadi lebih buruk dan lebih sering terjadi akibat dari beberapa alasan berikut:

  1. Lapar. Anak lapar akan menjadi galak dan sulit ditenangkan
  2. Sangat kelelahan/mengantuk. Anak yang tidak tidur siang atau tidak mendapatkan tidur cukup pada malam sebelumnya biasanya akan lebih mudah marah
  3. Tidak berdaya. Anak yang tidak mampu untuk menyelesaikan tugasnya (mengancingkan baju, menumpuk balok) akan merasa gagal dan kecewa.
  4. Perubahan mendadak. Anak yang dipaksa berubah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya lebih mudah menjadi marah dan bertingkah laku berlebihan
  5. Mencari perhatian. Seorang anak yang tidak mendapatkan perhatian saat marah kadang dapat membentuk kebiasaan memiliki tantrum
  6. Tidak mendapatkan benda yang diinginkan, membuat anak kecewa atau tersinggung
  7. Benda miliknya diambil secara paksa
  8. Orangtua tidak mengerti apa yang diinginkan atau dikatakan oleh anak membuatnya frustasi. Demikian jika anak tidak mengerti yang dikatakan orangtua.
  9. Anak yang merasa cemas, tertekan atau terganggu
  10. Ketidakmampuan memecahkan masalah mengakibatkan anak kecewa.

Pada umumnya bila kebutuhan emosional dan fisik seorang anak terpenuhi anak jarang bertingkah laku berlebihan

Tatalaksana

Bagaimanapun baiknya orangtua memenuhi kebutuhan fisik dan emosional anak, tetap ada kemungkinan anaknya mengalami tantrum. Jarang anak bertingkah laku berlebihan untuk membuat orangtuanya marah. Perilaku itu mungkin membuat dia sendiri juga takut.

Pada umur tertentu, anak menggunakan tantrum untuk berekspresi. Anak tidak mengetahui bagaimana cara mengekspresikan keinginan mereka. Dengan kesabaran dan cintaa, orangtua dapat membantu anaknya untuk mengekspresikan keinginan mereka melalui kata kata dan menunjukkan kemarahan melalui cara yang sesuai.

Beberapa cara untuk mengontrol tantrum:

  1. Orangtua tetap tenang. Mungkin hal ini sulit untuk dilakukan, tetapi orangtua sebaiknya tetap tenang dan memegang kendali. Hal ini membantu orangtua mengingatkan diri bahwa tantrum adalah hal yang alami dan bukan merupakan suatu reaksi yang buruk untuk mengungkapkan rasa frustasi dan kemarahan. Orangtua marah hanya akan membuat anak tambah binging dan frustasi
  2. Jangan mengubah tidak menjadi ya. Jangan mengubah keputusan yang telah dibuat hanya untuk membuat anak menghentikan tingkah laku tantrumnya. Mengatakan ya hanya akan memberi pemulihan yang bersifat sementara tetapi kekuatan anak akan bertambah karena diizinkan dan akan membuatnya semakin sukit untuk dikendalikan di kemudian hari. Anak akan memeperoleh manfaat bila memiliki orangtua yang menjalankan aturan. Anak harus tahu siapa yang memegang kendali. Bersifat hangat, sungguh-sungguh, dan konsisten adalah dasar dalam membesarkan anak.
  3. Memindahkan anak. Jika anak mengalami tantrum pads tempat keramaian pindahkan anak ke tempat lain yang lebih tenang. Tantrum anak ini dapat menganggu dan memalukan dan tidak ada gunanya untuk membiarkannya tetap di sana. Orangtua dan anak mungkin dapat duduk di dalam mobil sampai anak tenang atau pulang ke rumah
  4. Orangtua yang memindahkan diri. Jika anak ada di tempat yamg aman (misalnya kamar tidur), tinggalkan anak selama beberapa menit dan biarkan dia menjadi tenang. Tanpa penonton untuk “pertunjukannya”, anak akan lebih mudah berhenti
  5. Tenangkan anak. Jika anak mulai menyakiti dirinya selama tantrum (misal memukulkan kepala di lantai), orangtua harus menghentikan setenang mungkin. Tenangkan anak dan selama memeluknya katakan “kamu sangat marah saat ini. Ayah atau ibu tidak akan membiarkanmu melukai diri sendiri. Ayah dan ibu disini dan kami mencintaimu.”
  6. Bicarakan sesudahnya. Jangan mencoba bicara pada anak tentang kelakuannya ketika dia marah. Tunggu sampai tantrumnya hilang, lalu diskusikan dengan anak bagaimana cara mengendalikan marah dan frustasi
  7. Jangan mencoba berbincang untuk meyakinkan anak sepanjang ledakan kemarahannya. Perasaan anak seperti laut emosi yang mendidih, tidak dalam keadaan mental yang siap untuk mendengarkan logika atau alasan.
  8. Jangan mengancam dengan hukuman

Beberapa sikap di bawah ini dapat dicoba pada tipe tipe tantrum yang berbeda:

  1. Berikan dukungan dan bantuan jika anak mengalami frustasi atau mengalami kelelahan akibat tantrum (fatigue related tantrum)
  2. Jangan terlalu memberikan perhatian bila anak mengalami tantrum untuk menarik perhatian (attention seeking) atau mengalami tantrum untuk menuntut sesuatu (demanding type tantrum)
  3. Secara fisik anak anak mengalami tantrum karena merasa dirinya ditolak (refusal type tantrum atau avoidance type tantrum)
  4. Jangan biarkan anak terlalu lama mengalami tantrum yang merusak (disruptive type tantrum)
  5. Pegangilah anak disaat mengalami tantrum yang berbahaya (harmful type tantrum)

Pencegahan

  1. Membiaskan makan tidur secara rutin. Tidak berpergian terlalu jauh/lama. Menghindari telat makan atau kurang tidur
  2. Anak diizinkan untuk memiliki suatu mainan
  3. Menjelaskan apa yang bisa anak lakukan dan jangn diharapkan sesuatu yang sempurna dari anak
  4. Membantu anak untuk mencegah frustasi. Anak dipersiapkan untuk suatu perubahan atau suatu kejadian dengan membicarakannya terlebih dahulu sebelum hal itu terjadi
  5. Membiarkan anak mengetahui aturan yang telah disepakati
  6. Membantu agar anak dapat menerima kekecewaan kecil tanpa berteriak menangis atau tindakan lain yang merusak
  7. Menciptakan coping skills dengan memberikan anak beberapa latihan untuk menunjukkan bagaimana mereka dapat menenangkan dirinya sendiri dan membiarkan anak berhadapan dengan problem sehari hari/frustasinya
  8. Menunjukkan dukungan dan reinforcement terhadap coping skills anak
  9. Ketika telah menemukan inti permasalahan, diharapkan anak dapat mencari jalan untuk mengekspresikan kemarahan secara lebih produktif di masa yang akan datang. Bila orangtua dapat mengajarkan hal hal tersebut secara baik, anak akan dapat mengontrol aktivitasnya dan mempunyai kadar resting cathecolamines yang memadai, sehingga lebih sedikir episode tantrum dan impulsivitas
  10. Mendorong anak untuk menggunakan kata dalam mengungkapkan perasaanya
  11. Mempertahankan kegiatan rutin harian
  12. Menghindari situasi yang membuat anak frustasi
Continue Reading

You may also like

Mengompol pada anak (Enuresis)

Kebanyakan anak sudah mampu mengontrol buang air kecil sejak usia 5 tahun. Apabila terjadi minimal 2x seminggu dalam waktu 3 bulan berturut turut atau kejadian ini mengganggu fungsi sosial, akademik, dan bukan karena efek obat/penyakit tertentu maka anak dikatakan enuresis.

Sebelum memulai pengobatan sebaiknya dilakukan:

  1. Membangunkan anak malam hari untuk ke toilet
  2. Memperbaiki akses ke toilet dengan memasang lampu yang terang menuju toilet
  3. Mengurangi minuman yang dikonsumsi 2 jam sebelum tidur
  4. Melepaskan popok sebelum tidur
  5. Tidak mengkonsumsi minuman berkafein sebelum tidur

Terapi lainnya yaitu

  1. Terapi motivasi misalnya memberikan hadiah bila anak berhasil tidak ngompol. Melakukan kegiatan bersih bersih di pagi hari.
  2. Terapi perilaku antara lain membangunkan anak di malam hari untuk buang air kecil. Belajar menahan kencing di waktu ygblama setelah minum

Terapi obat2an biasanya memerlukan jangka waktu lama (3-6 bulan) dan bisa kambuh kembali serta efek samping yang cukup mengganggu. Obat2an yang dapat diberikan pada enuresis antara lain desmopresin, imipramin, oxybutinin

Continue Reading

You may also like

Angka Cantik Pertumbuhan

Bayi baru lahir cukup bulan akan mengalami kehilangan berat badan sekitar 5-10% pada 7 hari pertama dan akan kembali ke berat badan normal pada hari ke 7-10

Perkiraan berat badan anak
• 2x BB lahir di usia 4-5 bulan
• 3x BB lahir di usia 1 tahun
• 4x BB lahir di usia 2 tahun

Rerata berat badan anak
• 3,5 kg saat lahir
• 10 kg saat usia 1 tahun
• 20 kg pada umur 5 tahun
• 30 kg pada umur 10 tahun

Kenaikan berat badan bayi sekitar 20 gram per hari atau 20-30 gram pada 3-4 bulan pertama dan 15-20 gram usia 6-12 bulan atau
• 700 sd 1000 g/bulan pada triwulan I
• 500 sd 600 g/bulan pada triwulan II
• 350 sd 450 g/bulan pada triwulan III
• 250 sd 350 g/bulan pada triwulan I

Pada masa prasekolah, kenaikan berat badan plateu di rata rata 2kg/tahun, kemudian masuk growth spurt:
pre adolescent kenaikan BB 3-3,5 kg/tahun
Adolescent, pada anak perempuan di usia 8 sd 18 tahun, anak laki laki di usia 10 sd 20 tahun

Tinggi Badan
Rata rata saat lahir 50 cm
• Usia 1 tahun: 1,5 x TB lahir
• Usia 4 tahun: 2x TB lahir
• Usia 6 tahun: 1.5x TB setahun
• Usia 13 tahun 3x TB lahir
• Dewasa 3.5x TB lahir atau 2x TB 2 tahun

Perkiraan tinggi badan dalam sentimeter
• Lahir 50 cm
• Usia 1 tahun 75 cm
• Usia 2-12 tahun yaitu umur (tahun)×6+77

Potensi tinggi genetik berdasarkan midparental height
• Target TB anak laki laki [(TB ayah+ TB ibu + 13)÷2] +- 8.5 cm
• Target TB anak perempuan [(TB ayah+ TB ibu – 13)÷2] +- 8.5 cm

Lingkar kepala
• Lahir 34-35 cm
• Usia 6 bulan 44 cm
• Usia 1 tahun 46 cm
• Usia 2 tahun 49 cn
• Dewasa 54 cm

 

Continue Reading

You may also like