Mengompol pada anak (Enuresis)

Kebanyakan anak sudah mampu mengontrol buang air kecil sejak usia 5 tahun. Apabila terjadi minimal 2x seminggu dalam waktu 3 bulan berturut turut atau kejadian ini mengganggu fungsi sosial, akademik, dan bukan karena efek obat/penyakit tertentu maka anak dikatakan enuresis.

Sebelum memulai pengobatan sebaiknya dilakukan:

  1. Membangunkan anak malam hari untuk ke toilet
  2. Memperbaiki akses ke toilet dengan memasang lampu yang terang menuju toilet
  3. Mengurangi minuman yang dikonsumsi 2 jam sebelum tidur
  4. Melepaskan popok sebelum tidur
  5. Tidak mengkonsumsi minuman berkafein sebelum tidur

Terapi lainnya yaitu

  1. Terapi motivasi misalnya memberikan hadiah bila anak berhasil tidak ngompol. Melakukan kegiatan bersih bersih di pagi hari.
  2. Terapi perilaku antara lain membangunkan anak di malam hari untuk buang air kecil. Belajar menahan kencing di waktu ygblama setelah minum

Terapi obat2an biasanya memerlukan jangka waktu lama (3-6 bulan) dan bisa kambuh kembali serta efek samping yang cukup mengganggu. Obat2an yang dapat diberikan pada enuresis antara lain desmopresin, imipramin, oxybutinin

Continue Reading

You may also like

Isap jempol

Semua bayi terlahir dengan kebiasaan menghisap secara refleks. Bayi menghisap guna memenuhi kebutuhan akan nutrisi (nutritive sucking), yaitu mengisap puting susu ibu atau dot. Seiring dengan pertumbuhannya, bayi akan terbiasa menghisap sebagai usaha untuk mencari ketenangan dan menimbulkan perasaan aman dan senang (nonnutritive sucking), misalnya empeng, ibu jari atau jari lainnya.

Sekitar 80% bayi menghisap ibu jari atau jari jari lainnya, lebih dari setengahnya berhenti spontan pada usia 4-5 tahun. Terdapat 2 refleks penting pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan thumb sucking:

  1. Refleks rooting yaitu gerakan kepala bayi menoleh ke arah objek yang menyentuh pipinya, bisa payudara ibu maupun jari bayi.
  2. Refleks sucking yaitu refleks menghisap yang timbul bila langit langit mulut bayi tersentuh suatu objek. Refleks ini menetap sampai usia 12 bulan

Refleks refleks ini mempunyai arti sebagai interaksi bayi dengan dunia luar sampai berkembangnya cara komunikasi yang lain.

Ada beberapa alasan mengapa thumb sucking dapat berkembang menjadi suatu kebiasaan. Perilaku ini menimbulkan kepuasan emosional, untuk mencari ketenangan atau melepas ketegangan. Beberapa teori psikologi perkembangan dipakai untuk menerangkan kebiasaan thumb sucking ini. Pendapat pertama berdasarkan teori klasik dari Feud yang menganggap thumb sucking sebagai manifestasi seksual infantil yaitu suatu gejala psikopatologi pada bayi selama fase oral.

Pendapat kedua berasal dari teori Erikson. Menurut Erikson, perkembangan mengisap yang normal (nutritive sucking) yang berkembang menjadi suatu kebiasaan thumb sucking mungkin berawal dari penanganan yang tidak sempurna papda fase perkembangan anak sebelumnya. Fase awal perkembangan anak menurut Erikson adalah basic trust. Pada fase ini hubungan orangtua dana anak yang erat akan membantu anak untuk memperkuat kepercayaan terhadap dunia luar di kemudian hari. Fase ini ditandai oleh kecemasan anak bila berpisah dengan orang tua. Sebagai pengganti kenyamanan dan kehangatan orangtua secara tidak disadari (berhubungan dengan nutritive sucking) anak mulai menghisap jarinya. Setelah nutritive sucking berakhir, non nutritive sucking akan melekat menjadi kebiasaan thumb sucking.

Sebagian anak akan menghisap ibu jari menjelang dan selama tidur. Pada anak yang lebih besar, thumb sucking dapat dilakukan ketika anak kelelahan, bosan, frustasi, lapar, stres emosional atau sakit. Pada perkembangan anak tahap lanjut, kebiasaan ini dapat menjadi tanda adanya regresi.

Tatalaksana

Kebanyakan thunb sucking masih dianggap normal dan tidak memerlukan intervensi selama tidak meyebabkan gangguan perkembangan dan gangguan interaksi sosial. Begitu juga, anak yang lebih besar yang hanya sesekali melakukan thumb sucking tidak memerlukan tindakan karena perilaku ini jarang menimbulkan masalah kesehatan.

Umumnya para ahli tidak menganjurkan intervensi terhadap kebiasaan ini sebelum anak berusia 4 sampai 4.5 tahun. Pendekatan tatalaksana ini berdasarkan pada dua alasan.

Pertama ada anggapan bahwa pada kebanyakan kasus kebiasaan thumb sucking inu menghilang secara spontan pada awal pertumbuhan gigi, ketika anak beralih kepada kesenangan lain atau bentuk perilaku yang lebih matang. Data menunjukkan bahwa sekitar 5-10% anak dengan thumb sucking pada usia 5 tahun atau lebih merupakan kebiasaan yang dianggap kronik, kebiasaan ini bisa terjadi di berbagai lokasi yang berbeda dan terjadi pada siang maupun malam.

Kedua alasan psikososial. Kebiasaan ini menyenangkan, mendatangkan kenyamanan, dan menghilangkan ketegangan pada anak anak yang berada dalam dunia yang penuh ketegangan. Kebiasaan ini menetap karena pengulangan secara terus menerus dan anak tidak menyalurkan kesenangannya pada aktivitas lainnya seperti pada anak yang lebih tua. Alasan kedua inu berlebihan karena kebiasaan thumb sucking ini secara tidak sadar belajar dari kebiasaan “kosong”, terjadi ketika tidur, dan tanpa alasan emosional yang mendasari. Penghentian kebiasaan ini tidak membahayakan perkembangan emosional anak dan juga tidak menimbulkan kebiasaan baru seperti menghisap lidah atau menghisap/menggigit bibir.

Penatalaksanaan terhadap thumb sucking harus diberikan bila ada masalah psikologis yang mendasari, gangguan emosi pada anak, ketegangan dalam keluarga, atau masih menetap setelah usia 5 tahun. Beberapa bentuk kebiasaan thumb sucking harus dieliminasi seperti thumb sucking yang berat dan kronik atau bersamaan dengan kebiasaan lain yang harus dihentikan.

Semua intervensi jangan dilakukan secara paksa karena kebiasaan ini tidak memengaruhi kesehatan anak. Menghentikan kebiasaan ini dengan kekerasan akan membuat anak semakin mempertahankannya. Pada beberapa anak kebiasaan ini justru menjadi lebih berat, bahkan mulai beralih sebagau mekanisme mencari perhatian. Pada sebagian kecil thumb sucking, imaturitas emosi muncul kembali. Obyek transisional seperti boneka atau selimut dapat mendatangkan kenyamanan dan menghilangkan ketegangan. Keadaan ini dapat menolong bila anak mengalami stres, ketika anak tersebut masih terlalu muda untuk mengatur emosi mereka. Tantangan bagu dokter spesialis anak, psikolog, dan orangtua adalah membabtu anak mengembangkan kesenangan lain dan bentuk perilaku yang lebih matur.

Metode terapi

Jangan menggunakan kontak fisik, seperti menarik tangan anak dari mulutnya, memukul atau menarik rambut anak. Tindakan seperti ini hanya akan memperburuk keadaan. Anak yang lebuh besar dapat dinasehati. Bicarakan penghentian kebiasaan ini pada saat anak tidak dalam keadaan stres, sedih, ataupun sakit. Berikan peringatan halus pada waktu kebiasaan tersebut berlanjut dan beri penghargaan bila anak tidak melakukannya

Hal yang bisa dicoba

  1. Memasang band aid, thumb guard, atau thumb splints untuk membungkus jarinya
  2. Memakaikan sarung tangan
  3. Memuji dan memberi penghargaan bila mereka tidak menggigit jarinya

Umumnya anak akan menghentikan kebiasaan ini di siang hari sebeluk mereka memasuki usiansekolah. Seringkali kebiasaan ini masih mungkin berlanjut pada malam hari sewaktu anak pergi tidur ataupun saat mereka sedih.

Continue Reading

You may also like

Gerakan Tutup Mulut

Hal hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak yang sulit makan antara lain:

  1. Menetapkan jadual makan dan mentaati jadual tersebut. Anak duduk saat makan dan waktu pemberian makan dibatasi selama sekitar 15 sd 20 menit
  2. Menghindari pengalihan perhatian seperti mainan atau televisi sepanjang waktu makan
  3. Menawarkan porsi yang terbatas untuk masing masing variasi makanan
  4. Memberikan sedikit minuman setelah anak mulai makan. Pemberian susu diberikan setelah anak selesai makan
  5. Tidak memberikan juice buah atau snack diantara waktu makan
  6. Jangan memaksa anak untuk makan. Cobalah untuk tetap tenang. Perasaan netral akan lebih efektif dibandingkan memarahi atau memuji berlebihan

Tatalaksana bersama tim rehabilitasi medis/fisioterapi yang dilakukan pada anak sulit makan antara lain dengan intervensi:

  1. Desensitisasi area mulut
  2. Latihan meningkatkan tonus otot yang digunakan untuk menghisap
  3. Perawatan esofagitis dan refluks gastroesofageal
  4. Pada anak dengan gangguan neurodevelopmental dilakukakan: memposisikan anak agara tonus otot normal, melakukan latihan oral untuk meningkatkan keteramlilan oromotor, terapi perilaku dan pola makan sesuai contoh. Pada anak dengan kelaianan neurodevelopmental berat diperlukan pelatihan buat pengasuhnya tentang tekhnik relaksasi, manajemen waktu dan pengaturan istirahat

Intervensi gizi

Jika anak mengalami kurang gizi, perlu dilakukan koreksi gizi sebelum dilakukan modifikasi perilaku. Kebutuhan energi untuk memperbaiki status gizi dapat dihitung sebagai berikut:

Kkal/kg/hari = [BB ideal sesuai umur (kg) x kkal/kg/hari (BB/U)] : BB sekarang (kg)

Memperbaiki/mengoreksi gangguan gizi yang telah terjadi dapat dilakukan dengan cara:

  1. Melakukan pengelolaan pemberian makan, termasuk memperbaiki jenis dan jumlah makanan yang diberikan, pengaturan jadual dan cara pemberiaan makanan, pengaturan perilaku dan suasana makan anak
  2. Mengoreksi keadaan defisiensi gizi yang ditemukan
  3. Penggunaan obat perangsang nafsu makan sebaiknya dihindari
Continue Reading

You may also like

Perkembangan bahasa

Kemampuan bicara memerlukan keterampilan intelektual dan motorik, jadi tidak hanya merupakan koordinasi otot otot pembentuk suara tapi juga kemampuan mengaitkan arti dari bunyi yang dihasilkan.

Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak, karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kelainan pada sistem lainnya, seperti kemampuan kognitif, sensorimotor, psikologis, emosi, dan lingkungan di sekitar anak. Rangsangan sensoris yang berasal dari pendengaran (auditory expressive & receptive language development) sangat penting dalam perkembangan bahasa. Seorang anak tidak akan mampu berbicara tanpa dukungan lingkungannya. Mereka harus mendengar dan melihat pembicaraan yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari maupun pengetahuan tentang dunia di sekitarnya. Mereka harus belajar mengekspresikan diri, membagi pengalaman dengan orang lain, dan mengemukakan keinginannya.

Menurut teori neuropsikolinguistik, berbahasa adalah interaksi yang kompleks antara fungsi otak (korteks serebri), semantik dan pragmatik, fonologi, grammar dan organ yang memproduksi bahasa. Sistem ini saling berhubungan, bila salah satu mengalami masalah akan terjadi gangguan bicara. Salah satu petunjuk untuk menilai kepandaian anak berbicara adalah rumus 4S, yaitu umur anak dibagu 4 (dalam tahun) merupakan proporsi kata yang bisa dipahami pendengar dari seluruh kata kata yang diucapkan oleh anak. Anak umur 1 tahun sebanyak 1/4 S, artinya seperempat kalimat yg diucapkan dimengerti pendengar.

Keterampilan mengartikulasikan suara juga mengikuti pola tertentu. Yang pertama kali muncul adalah suara paling mudah, yaitu suara bibir (dinyatakan dalam huruf m, p, b, v, o). Berikutnya yang terdengar adalag suara sederhana yang dihasilkan oleh lidah dan gusi (d, n, t). Ketika anak mulai menguasai kontak lidah palatum (g, k, ng), sering mereka bingung membedakan d dengan g, serta t dengan k, terutama bila keduanya muncul dalam 1 kata (misalnya dagu diucapkan dadu atau gagu). Jenis duplikasi fonetik ini sering terjadi pada umur 2 tahun dan dapat terjadi pada umur 3 tahun. Ketika anaj belajar membuat perbedaan suara, mereka juha belajar mengendalikan motorik untuk pola bicara yang lebih kompleks dan daoat mengucapkan huruf f, v, s, dan z. Karena suara suara itu mirip, anak umur 3 tahun dapat keliru menyebut f untuk s atau v untuk z.

Pengendalian untuk berbagau bunyi ucapan biasanya dikuasai lebih dulu pad awal kata kata. Anak umur 2 tahun mungkin menghilangkan suara pada akhir kata; anak umur 3 tahun dapat terpeleset pada bunyi di tengah kata, dan anak umur 4-5 tahun dapat mengalami kesulitan dengan kata yang lebih kompleks. Kesalahan artikulasi dapat terjadi sampai batas umur 7 tahun. Anak umur 4 tahun adalah penerima bahasa ibu yang baik, walaupun masih terdapat kesalahan artikulasi, tetapi ucapannya cukup dapat dimengerti dan telah menguasai dasar sintaks, fonetik, dan semantik (arti kata).

Tahapan Perkembangan Bahasa

  1. Reflective vocalization. Pada bayi baru lahir, dengan caranya sendiri, bayi akan “berbicara”. Pada umur ini, bayi masih belum mampu membedakan berbagai macam stimuli dari luar serta belum mampu bereaksi secara spesifik terhadap stimuli yang berbeda beda, sehingga bayi akan menangis terhadap semua stimuli yang diterimanya. Tangusan bayi dan vokalisasi selama 2-3 minggu pertama dalam hiduonya bersifat reflektif. Vokalisasi terjadi akibat udara yang secara refleks keluar dari paru lewat pita suara sehingga terbentuk suara. Suara yang terbentuk tidak mempunyai arti sama sekali. Pada akhir minggu kedua atau ketiga, ibu sudah dapat membedakan arti tangisan bayi. Bayi sudah dapat memberikan reaksi berbeda terhadap stimuli yang diterimanya, sudah ada rasa tertarik terhadap wajah dan orang sekitarnya, karena sudah mulai terjadu maturasi baik fisik maupun mental. Pada umur 2-4 bulan, bayi sudah bisa cooing (seperti suara burung merpati)
  2. Babbling. Pada umur 6-7minggu, bayi sudah mulai menunjukkan reaksi terhadap suara yang dibuatnya. Bayi menyenangi suaranya dan menghibur dirinya dengan suara. Coos gurgles, dan permainan suara umum lainnya akana diikuti oleh perkembangan bicara baru yang disebut babbling pada umur sekitar 4-9 bulan. Suara yang ditimbulkan bermacam-macam, mukai dari vokal lalu konsonan, dan kombinasi keduanya. Vokal seperti “a” akan diulang ulang dalam nada dan kekerasan yang berbeda. Kemudian muncul suara konsonan labial “p” dan “b” (guttural), “g” (dental), dan terakhir nasal “n”. Pada umur 6 bulan bayi sudah memberikan reaksi kalau dipanggil namanya atau menoleh ke arah sumber suara.
  3. Lalling. Sampai dengan tahap babbling, perkembangan pendengaran dan bahasa sama pada anak tuli dan anak yang tidak tuli. Karena masih bersifat reflektif dan respons terhadap stimuli internal, babbling terjadi baik pada anak yang tuli maupun yang tidak tuli. Setelah tahapan babbling, akan terjadi perbedaan perkembangan bahasa antara anak tuli dan tidak tuli. Mulai dari tahapan lalling, pendengaran mempunyai peran penting. Lalling adalah pengulangan (repetition) suara atau kombinasi suara yang didengar seperti ba-ba, ma-ma, gub-gub. Lalling biasanya mulai pada sekitar umur 6 bulan. Pada lalling, yang penting adalah terdapat hubungan yang bermakna antara produksi suara dan pendengaran.
  4. Echolalia. Sekitar umur 9-10 bulan, anak sudah bisa meniru (imitation) suara yang dibuat orang lain dan suara yang sering didengarnya. Pada tahapan lalling, yang akan ditiru pertama kalo adalah suara yang dimengerti anak. Pada saat ini, anak sudah siap untuk menirukan segala macam suara. Mereka akan memilih suara mana yang mudah untuk ditiru dan yanh tidak mudah ditiru (suara yang membingungkan).
  5. True speech. Pada sekitar umur 12-13 bulan, rata rata anak sudah mulai bisa bicara. Ada anak yang lambat, ada anak yang cepat bicara. Yang dimaksud bicara adalah anak dengan sengaja menggunakan pola bunyi konvensional (kata-kata), yang merupakan respons terhadap situasi tertentu dari lingkungannya. Sebelim anak bisa bicara, anak harus mengerti dulu apa yang dikatakan orang lain (verbal understanding). Keadaan ini menunjukkan bahwa anak telah merespon baik secara mental maupun motorik terhadap kata kata yang diucapkan orang lain. Kalau anak mampu mengerti (verbal understanding), mereka akan lebih cepat untuk dapat berbicara.

Pada anak usia 18-24 bulan, kadang kadang kosa katanya telah mencapai 30-60 kata dan kecepatan anak dalam mempelajari bahasa meningkat dramatis. Anak belajar rata rata 3-4 kata per hari, dan mulai mengkombinasikan kata ke dalam suatu frase yang terdiri dari 2 kata. Ketika kalimat panjang bertambah, anak mulai menguasai elemen struktur bahasa lebih spesifik, termasuk kata ganti, kata tanya, dan kata kerja. Pada umur 3 tahun, pemahamannya sudah sangat baik, yaitu anak sudah dapat membuat kalimat terdiri dari 3 atau beberapa suku kata, anak mulai bertanya dengan menggunakan kata tanya “apa”, kemudian menggunakam kata tanya “mengapa”, dan akhirnya anak dapat terlibat dalam percakapan singkat. Pada umur 4-5 tahun, anak dapat menyusun kalimat yang kompleks, berpartisipasi dalam percakapan yang lebih bermakna, dan menuturkan cerita singkat.

Continue Reading

You may also like

Perkembangan Kognitif

Perkembangan kecerdasan setiap anak dipengaruhi berbagai macam faktor, antara lain genetik, stimulasi dan nutrisi. Beberapa nutrisi yang penting untuk perkembangan otak antara lain LCPUFA asam lemak rantai panjang, asam arakhidonat, DHA, kolin, taurin, yodium dan zat besi.

Pertumbuhan otak tercepat terjadi pada trimester ketiga kehamilan sampai 2 tahun pertama setelah lahir. Pada usia 2 tahun ukuran otak anak mencapai 80% dari ukuran otak dewasa.

DHA dan AA secara alami terdapat dalam ASI. DHA adalah komponen pembentuk otak yang penting dalam mengoptimalkan perkembangan otak, jaringan saraf, dan jaringan penglihatan bagi bayi. Taurin merupakan asam amino esensial yg diperlukan untuk perkembangan mata, otak, serta konjugasi bilirubin. Pada bayi prematur, suplementasi taurin dapat membantu maturasi sistem pendengaran.

Tahap perkembangan kognitif menurut Piaget:

  1. Tahap sensori motor (0 sd 24 bulan)
  2. Tahap praoperasional (2-7 tahun)
  3. Tahap operasional konkret (7-11 tahun)
  4. Tahap operasional formal (>11 tahun)

Secara keseluruhan, perkembangan milestone kognitif anak dari sejak lahir dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Pada usia 0-3 bulan anak belajar melakukan kontak mata, dan menangis dengan nada yg berbeda apabila, ingin digendong, popoknya basah atau lapar

Usia 3-6 bulan bayi semakin tertarik pada lingkungannya, mencari mainan

Usia 6-9 bulan, mulai tertarik pada bagian tubuhnya, memahami objek, memahami naik dan turun, mencari mainan/objek atau benda

Usia 9-12 bulan menemukan benda yg disembunyikan, menirukan gerakan tubuh dengan mudah, mulai eksplorasi sekitar, ingin tahu dan menyentuh apa saja, menunjukkan ketertarikan pada buku gambar

Usia 12-18 bulan membedakan bentuk dan warna, berespon terhadap instruksi sederhana

Usia 18-24 tahun dapat membantu/meniru kegiatan orang tuanya, sudah mulai mengenal anggota bagian tubuh, eksplorasi lingkungan.

Usia 24-36 bulan sudah bisa menunjukkan nama 2 anggota badan, sudah bisa menyebutkan dengan benar 2 gambar, mulai dapat menggabungkan 2-3 kata menjadi 1 kalimat, sudah mulai menggunakan nama sendiri untuk menyebut dirinya

Usia 36-48 bulan sudah mulai hapal warna, sudah tau umurnya, sudah mengerti arti kata di atas, depan, atau bawah. Sudah bisa menaati aturan dalam permainan, sudah bisa pakai baju dan sepatu sendiri

Continue Reading

You may also like