Terjatuh dari Tempat Tidur

Bayi Terjatuh

• Jatuh adalah penyebab utama cedera tidak fatal pada anak-anak, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).
• Pada anak-anak di bawah usia 1 tahun, jatuh merupakan >50% jenis cedera tidak fatal.
• Bayi di bawah usia 12 bulan memiliki tengkorak yang lebih rapuh, membuat mereka lebih berisiko jatuh.

Tanda Bahaya

Apabila bayi sadar dan menangis (itu adalah reaksi normal untuk bayi yang terkejut, bahkan ketika tidak ada cedera), angkat dan hibur dengan lembut. Hati-Hati jika terdapat tanda berikut ini:

• Kehilangan kesadaran.
• Muntah.
• Keluarnya cairan atau darah dari hidung atau telinga.
• Pembengkakan pada titik lunak.
• Memar atau bengkak di sepanjang kepala,
• Patah tulang tengkorak yang jelas.

Pemantauan

• Gejala cedera mungkin tidak langsung terlihat
• Perhatikan gerak gerik bayi selama 24 jam ke depan
• Bayi cenderung ingin tidur setelah jatuh, terlepas dari apakah mereka mengalami gegar otak atau tidak.
• Coba bangunkan setiap beberapa jam untuk memastikan mereka dapat dibangunkan. Jika tidak, segera ke Dokter
• Jika terlihat gerak gerik yang tidak biasa atau bayi lebih rewel dari biasanya, tidak dapat dihibur. Segera ke dokter.

Pencegahan

Mencegah Jatuh Lebih Baik dan Bisa diusahakan:

• Sebaiknya bayi tidak tidur di tempat tidur orang dewasa atau di permukaan yang tinggi tanpa pengawasan .
• Gunakan kedua tangan untuk menggendong bayi dan pastikan lehernya selalu ditopang.

Continue Reading

You may also like

Resiko Tersedak

Tersedak

• Sering pada bayi yang sedang belajar cara mengunyah dan menelan makanan.
• Cara menyajikan makanan. Misalnya, beberapa makanan yang disajikan mentah, utuh, atau dalam bentuk atau ukuran tertentu dapat menimbulkan bahaya tersedak.
• Memotong makanan menjadi potongan kecil dan menumbuk makanan dapat membantu mencegah tersedak.

Risiko Tersedak

Buah/Sayur:

• Biji jagung utuh
• Tomat ceri atau anggur yang belum dipotong
• Potongan sayuran atau buah mentah yang keras, seperti wortel atau apel
• Buah kalengan utuh yang belum dipotong
• Sayuran atau buah kering yang tidak dimasak, seperti kismis

Lauk Pauk:

• Kacang dan biji-bijian utuh
• Potongan atau sesendok mentega kacang dan bijibijian, seperti selai kacang
• Potongan daging yang keras dan besar
• Hot dog, stik daging, atau sosis
• Potongan besar keju
• Tulang ikan

Olahan Gandum:

• Kue kering atau batangan granola
• Kentang atau keripik jagung, popcorn, atau makanan ringan semacamnya
• Kerupuk atau roti dengan biji, potongan kacang
• Biji gandum utuh atau bijibijian lainnya yang dimasak

Makanan Manis:

• Permen bulat atau keras, kacang jeli, karamel
• Camilan buah kenyal
• Permen karet
• Marshmallow

Cegah Tersedak:

• Persiapan makan :
– Masak dan siapkan makanan dengan bentuk, ukuran, dan tekstur yang tepat dengan perkembangan anak.
– Hindari makanan kecil, lengket, atau keras yang sulit dikunyah dan ditelan.
• Duduk saat makan (tidak berbaring, merangkak, atau berjalan). Hati hati saat menyuapi makan di dalam mobil.
• Jangan terburu-buru saat makan.
• Perhatikan apa yang dimasukkan anak ke dalam mulutnya.
• Pelajari pertolongan pertama saat anak tersedak

Tersedak usia >1 tahun Manuver Heimlich:

• Berlutut di belakang anak. Lingkarkan di perut anak, di bawah tulang rusuknya
• Kepalkan salahsaatu tangan, bagian kepalan jempol di ulu hati.
• Tangan satunya lagi mengenggam tangan yang dikepal kemudian tekan ke atas (sudut 45 derajat)
• Hal ini akan membuang sisa udara di dalam dada sehingga memudahkan mengeluarkan benda yang menyumbat saluran napas
• Ulangi beberapa kali sampai sumbatan terbuang keluar atau anak menjadi tidak sadar.

Tersedak Usia <1 Tahun:

• Letakkan anak di pangkuan dengan badan anak bersandar di lengan ortu dan muka anak menghadap bawah.
• Sangga kepala dan rahang dengan lengan ortu.
• Berikan 5x penekanan (back blows) di antara tulang belikat anak dengan bagian bawah telapak tangan ortu
• Pastikan kekuatan tekanan cukup agar sumbatan terlepas

Kompresi Dada Bayi:

• Apabila setelah 5x back blows anak masih tidak bernapas, baringkan anak di tempat datar sambil tetap menyangga kepala dan leher
• Letakkan 2 jari di pertengahan tulang dada (sedikit di bawah garis pertengahan kedua puting)
• Berikan 5x kompresi dada dengan kedua jari tersebut. Lakukan bergantian antara kompresi dada dan back blows
• Bila anak jadi tidak sadar, lakukan CPR. Sebelum memberikan bantuan napas, lihat dalam mulut ada tidaknya sumbatan. Telpon gawat darurat.
• Lanjutkan CPR sampai bantuan datang. Bila anak kembali bernapas namun belum sadar, posisikan miring dan pantau sampai bantuan datang

Continue Reading

You may also like

Kejang Demam

Kejang demam (febrile convulsions) adalah kejang yang dapat terjadi saat anak demam.
Paling sering terjadi antara usia 6 bulan dan 3 tahun. Kejang ini biasanya tidak berbahaya dan hampir semua anak sembuh total setelahnya.

• Kejang demam biasanya berlangsung kurang dari 5 menit.
• Badan anak kaku, lengan dan kaki mulai berkedut kehilangan kesadaran. Mulut berbusa, dan mata mereka mungkin berputar ke belakang.
• Setelah kejang, anak mungkin mengantuk hingga satu jam.

Kejang Demam Kompleks

• Terkadang, kejang demam dapat berlangsung lebih dari 15 menit
• Kejangnya dapat hanya memengaruhi satu bagian tubuh anak
• Kejang berulang ulang dalam 24 jam

Apa yang harus dilakukan?

• Pastikan sekeliling aman
• Posisikan anak di “posisi pemulihan” .
• Tetap bersama anak dan coba catat berapa lama kejang berlangsung.
• Jangan memasukkan apa pun ke dalam mulut anak selama kejang, termasuk obat, karena berisiko lidahnya malah tergigit
• Berikan obat kejang dari bawah (dubur)

Segera ke RS, apabila:

• Kejang untuk pertama kalinya
• Kejang berlangsung lebih dari 5 menit dan tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti
• Jika curiga kejang disebabkan oleh penyakit serius lainnya misalnya, meningitis (habis kejang anak tidak sadar)
• Terlihat tanda dehidrasi
• Anak mengalami kesulitan bernapas

Diagnosis Kejang Demam

Kejang demam dapat didiagnosis dari deskripsi apa yang terjadi. Perhatikan:

• Berapa lama kejang berlangsung
• Apa yang terjadi, seperti tubuh kaku, kedutan pada wajah, lengan dan kaki, menatap, dan kehilangan kesadaran
• Apakah anak pulih dalam 1 jam
• Riwayat kejang sebelumnya
• Tes lebih lanjut, seperti tes darah atau tes urin, jika dipelukan, EEG, lumbal pungsi (lakukan di RS)
• Observasi lebih lanjut di rumah sakit direkomendasikan jika gejala anak tidak biasa atau mereka mengalami kejang demam kompleks, terutama jika berusia di bawah 12 bulan.

Penyebab Kejang Demam

• Penyebab kejang demam tidak diketahui
• Mungkin ada hubungan genetik dengan kejang demam, karena kemungkinan kejang meningkat jika anggota keluarga dekat memiliki riwayat kejang demam.
• Dalam kebanyakan kasus, suhu tinggi anak disebabkan oleh infeksi.
Contoh umum adalah cacar air, flu, infeksi telinga tengah atau tonsilitis.

Apakah bisa Kambuh?

Sekitar 1 dari 3 anak yang pernah mengalami kejang demam akan mengalami kejang lagi selama infeksi berikutnya. Kekambuhan lebih mungkin terjadi jika:

• Kejang demam pertama terjadi sebelum usia 18 bulan
• Ada riwayat kejang atau epilepsi dalam keluarga
• Anak mengalami demam yang berlangsung kurang dari satu jam atau suhunya di bawah 40°C
• Riwayat kejang demam kompleks (lebih

Komplikasi Kejang Demam

• Banyak orang tua khawatir bahwa jika anak kejang demam, maka akan menjadi epilepsi di kemudian hari. Epilepsi adalah suatu kondisi di mana seseorang mengalami kejang berulang tanpa demam.
• Anak-anak dengan riwayat kejang demam memiliki peningkatan risiko epilepsi, namun sangat kecil kemungkinannya.
• Diperkirakan anak-anak dengan riwayat kejang demam sederhana memiliki peluang 1 dari 50 mengalami epilepsi di kemudian hari.
• Anak-anak dengan riwayat kejang demam kompleks memiliki peluang 1 dari 20 untuk mengalami epilepsi di kemudian hari.

Continue Reading

You may also like

Bedong Bayi

Bedong Bayi dan Perkembangan Pinggul

• Pembedongan yang tidak tepat dapat menyebabkan displasia pinggul atau displasia perkembangan pinggul.
• Saat dalam kandungan, kaki bayi berada dalam posisi janin dengan kaki ditekuk ke atas dan saling bersilangan.
• Meluruskan kaki secara tiba-tiba ke posisi berdiri dapat mengendurkan sendi dan merusak tulang rawan lunak soket.
• Bedong dapat memberikan kenyamanan bagi bayi yang rewel, mengurangi tangisan, dan pola tidur yang lebih baik

Tips Membedong Bayi

• Apabila menggunakan kain persegi, lipat kembali salah satu sudut membuat tepi lurus.
• Letakkan bayi di atas kain sehingga bagian atas kain setinggi bahu. Jika menggunakan kain persegi panjang, bahu bayi akan diletakkan di bagian atas sisi yang panjang.
• Turunkan lengan kiri. Bungkus kain di atas lengan dan dada. Selipkan di bawah sisi kanan bayi.
• Turunkan lengan kanan dan bungkus kain di atas lengan dan dada bayi.
• Selipkan kain di bawah sisi kiri bayi. Berat bayi akan menahan kain dengan kuat di tempatnya.
• Putar atau lipat ujung bawah kain dan selipkan di belakang bayi, pastikan kedua kakinya tertekuk ke atas dan ke luar.

Prinsip Membedong Bayi:

Berikan ruang yang cukup untuk panggul bergerak dan tidak memaksakan posisi kaki diluruskan

Continue Reading

You may also like

BAK dan BAB Bayi

Buang Air Kecil (BAK) Bayi

• Bayi BAK setiap 1-3 jam atau 4-6 kali sehari. Jika mereka sakit atau demam, atau saat cuaca sangat panas, frekuensi BAK mungkin berkurang dan itu masih normal.
• Buang air kecil seharusnya tidak nyeri. Jika terlihat tandatanda stres saat bayi saat buang air kecil, ini bisa menjadi tanda infeksi atau masalah lain pada saluran kemih. Konsultasikan ke dokter
• Pada anak yang sehat, urin berwarna kuning muda sampai gelap. (Semakin gelap warnanya, semakin pekat urinnya; urin akan lebih pekat jika anak tidak minum banyak cairan.)
• Pada minggu pertama setelah lahir, mungkin terlihat noda merah muda atau merah bata pada popok, sering disalahartikan sebagai darah. Padahal, noda ini biasanya merupakan tanda urin yang sangat pekat. Jika noda merah muda berlanjut, konsultasikan dengan dokter anak.
• Anak perempuan yang baru lahir mungkin memiliki sedikit bercak darah di popok, biasanya pada minggu pertama setelah lahir, darah ini disebabkan oleh hormon ibunya yang mempengaruhi rahim bayi.
• Jika pendarahan ini disertai dengan gejala lain, seperti sakit perut, susah makan, muntah, demam, atau pendarahan di area lain, segera cari bantuan medis.

Buang Air Besar (BAB) Bayi

• Selama beberapa hari pertama setelah lahir, BAB pertama bayi disebut mekonium. Zat kental berwarna hitam atau hijau tua ini mengisi usus sebelum lahir, dan setelah lewat, tinja berubah menjadi kuning-hijau.
• Kotoran bayi bervariasi dalam warna dan konsistensi karena sistem pencernaannya yang belum matang. Pada bayi ASI, tinjanya berwarna kuning bercampur dengan beberapa partikel.
• Ketika mulai makan makanan padat atau MPASI, konsistensi tinja dapat berkisar dari sangat lunak hingga encer. Jika diberi susu formula, tinja mereka biasanya berwarna cokelat atau kuning, lebih keras daripada bayi ASI, tetapi tidak lebih keras dari tanah liat lunak.

Penting Diingat terkait BAB Bayi

• Variasi warna dan konsistensi tinja adalah normal. Misalnya, jika proses pencernaan melambat karena makanan yang membutuhkan lebih banyak usaha untuk dicerna, tinja bisa menjadi hijau atau jika bayi diberi zat besi tambahan, fesesnya bisa berubah warna menjadi coklat tua. Jika ada iritasi ringan pada anus, garis-garis darah mungkin muncul di bagian luar tinja. Namun, jika ada banyak darah, lendir, atau air dalam tinja, segera hubungi dokter.
• Karena tinja bayi biasanya lunak dan sedikit berair, orang tua perlu mengenali tanda diare
• Tanda-tandanya adalah peningkatan frekuensi yang tiba-tiba (menjadi lebih dari satu kali buang air besar setiap kali makan) dan kandungan cairan yang sangat tinggi dalam tinja.
• Diare merupakan tanda infeksi usus atau disebabkan oleh perubahan pola makan bayi. Jika bayi menyusui, mereka dapat mengalami diare karena perubahan pola makan ibu.
• Perhatian utama pada diare adalah kemungkinan dehidrasi. Jika demam juga muncul dan bayi berusia kurang dari 3 bulan, hubungi dokter.
• Jika bayi berusia lebih dari 3 bulan dan demam berlangsung lebih dari satu hari, periksa frekuensi BAK dan suhu rektalnya; kemudian laporkan ke dokter untuk dievaluasi. Pastikan bayi sering menyusu. Namun, jika bayi tetap terlihat sakit, segera ke dokter.
• Frekuensi BAB sangat bervariasi pada bayi. Banyak yang BAB segera setelah makan. Ini adalah hasil dari refleks gastrokolik, yang menyebabkan sistem pencernaan menjadi aktif setiap kali perut diisi dengan makanan.
• Pada usia 3-6 minggu, beberapa bayi yang disusui ASI hanya buang air besar sekali dalam seminggu, itu masih normal.
• ASI meninggalkan sangat sedikit limbah padat untuk dikeluarkan dari sistem pencernaan anak. Dengan demikian, jarang BAB pada bayi ASI bukan merupakan tanda sembelit dan tidak ada masalah. Selama bayi normal, berat badan terus bertambah, dan menyusui secara teratur.
• Jika bayi diberi susu formula, setidaknya BAB satu kali sehari. Jika kurang dari sekali sehari dan tampak mengejan, mereka mungkin mengalami konstipasi. Konsultasikan dengan dokter

Continue Reading

You may also like