Menyusui Sambil Tiduran

Diantara beberapa posisi menyusui bayi, salah satunya yaitu menyusui sambil tiduran
(Side Lying Breastfeeding Position)

Posisi Menyusui
• Tangan diantara bantal dan kepala bayi
• Jalan Napas bayi Bebas
• Ibu dan bayi membentuk ‘V’
• Sediakan bantal untuk menopang punggung ibu
• Ibu dan bayi berada Di tengah kasur

Tips dan Trik

Jika Ibu sudah menguasai seni berbaring miring untuk menyusui, maka trik selanjutnya adalah bisa menyusui dari bagian atas payudara sehingga Anda tidak perlu berpindah sisi tempat tidur di malam hari.

• Misalnya ibu miring ke kiri. Saat menyusui bayi kecil di payudara ‘bawah’ (kiri) ingatlah bahwa Ibu harus menopang bayi di sisi bayi dengan bantal kecil atau handuk gulung. (Bayi yang lebih besar mungkin baikbaik saja tanpa penopang).
• Untuk menyusui dari payudara ‘atas’ (kanan) ambil penyangga sehingga bayi telentang lagi, lalu condongkan tubuh ibu sedikit ke atas bayi.
• Kemudian, bayi sekarang harus menghadap ke atas, bukan ke samping seperti saat menyusui di payudara kiri. Berguling sedikit ke depan sehingga bahu dan panggul ibu sekarang sedikit miring ke depan, dengan sudut sekitar 60 derajat dari tempat tidur.
• Terkadang terbantu dengan meletakkan lengan ‘atas’ lurus, menunjuk ke arah kepala tempat tidur untuk keseimbangan. Tekuk dan gerakkan kaki kanan agar lebih stabil
• Saat miring ke kiri, jangan mencoba menggunakan tangan kiri Ibu untuk menopang kepala, begitu juga saat miring kanan.
• Untuk mencegah nyeri punggung, Lengan kiri ibu harus lurus. Leher ibu harus lurus sejajar dengan tulang belakang; jangan menjulurkan dagu atau menyelipkannya secara berlebihan.
• Yang terpenting dari penggunaan metode ini yaitu menjaga jalan napas bayi tetap bebas, jangan sampai menutup jalan napasnya karena bisa fatal. Ibu harus cermat dan berhati-hati jika menyusui sambil tiduran.

Continue Reading

You may also like

Cara Kerja ASI

Bagaimana ASI diproduksi?
• Lactogenesis I
• Lactogenesis II
• Lactogenesis III
Lactogenesis : proses pembentukan air susu ibu (ASI)

Kontrol Hormonal

Selama kehamilan dan beberapa hari pertama pascapersalinan, suplai ASI dipengaruhi oleh hormon (sistem kontrol endokrin).
• Kolostrum dibentuk sekitar pertengahan kehamilan (Laktogenesis I)
• Volume ASI akan meningkat (Laktogenesis II) sekitar 30-40 jam setelah melahirkan
• Meskipun dalam teori Laktogenesis II dimulai kirakira 30-40 jam setelah kelahiran, ibu biasanya tidak mulai merasakan peningkatan kepenuhan payudara (sensasi ASI “masuk”) sampai 50-73 jam (2-3 hari) setelah kelahiran.
• Lactogenesis III adalah tahapan pemeliharaan air susu dimana produksi diatur oleh payudara dan bayi. Kapan bayi lapar dan menghisap, maka ASI akan keluar, dan sebaliknya.

Bagaimana ASI diproduksi?

• Berdasarkan temuan penelitian, produksi ASI dipengaruhi hormon prolaktin yang menstimulasi selsel di payudara untuk memproduksi ASI.
• Ketika sudah penuh, maka akan ada umpan balik dari reseptor sel untuk menghentikan produksi dan ASI siap dikeluarkan, begitu seterusnya proses berjalan

PENGATURAN ASI

• Saat payudara sudah penuh terisi ASI, maka secara otomatis proses produksi ASI di payudara ibu akan melambat
• Saat payudara sudah kosong setelah menyusui atau pumping, maka secara otomatis proses produksi ASI di payudara ibu akan meningkat kembali

Apa yang Mempengaruhi Produksi ASI?

• Peneliti sebelumnya hingga saat ini masih konsisten bahwa volume susu biasanya lebih besar di pagi hari (waktu yang tepat untuk memompa jika Anda perlu menyimpan susu), dan turun secara bertahap seiring berjalannya hari. Kandungan lemak cenderung meningkat seiring berjalannya hari.
• Kapasitas penyimpanan ASI ibu. Kapasitas penyimpanan adalah jumlah ASI yang dapat disimpan payudara di antara waktu menyusui. Ini dapat sangat bervariasi tiap ibu dan juga antara payudara untuk ibu yang sama.
• Kapasitas penyimpanan TIDAK DITENTUKAN oleh ukuran payudara, meskipun ukuran payudara tentu dapat membatasi jumlah ASI yang dapat disimpan. Ibu dengan kapasitas penyimpanan besar atau kecil dapat menghasilkan banyak ASI untuk bayi.
• Seorang ibu dengan kapasitas penyimpanan ASI yang lebih besar mungkin dapat bertahan lebih lama di antara waktu menyusui tanpa mempengaruhi suplai ASI.
• Seorang ibu dengan kapasitas penyimpanan yang lebih kecil, perlu lebih sering menyusui bayi untuk memuaskan nafsu makan bayi dan menjaga suplai ASI.

TIPS MENINGKATKAN PRODUKSI ASI dan PENGOSONGAN PAYUDARA EFEKTIF

• Kosongkan payudara lebih sering (dengan menyusui lebih sering dan/atau menambahkan sesi pemompaan di antara sesi menyusui)
• Kosongkan payudara selengkap mungkin pada setiap sesi menyusui/memompa.
• Pastikan bayi menyusu dengan efisien.
• Gunakan pijatan dan kompresi payudara.
• Tawarkan kedua sisi di setiap menyusui; tunggu sampai bayi selesai dengan sisi pertama sebelum menawarkan yang kedua.
• Pompa setelah menyusui jika bayi tidak cukup melembutkan/mengosongkan kedua payudara. Jika bayi mengosongkan payudara dengan baik, maka pemompaan akan lebih bermanfaat jika dilakukan di antara sesi menyusui.

Responsive Feeding ASI sudah dikenalkan sejak dini, sejak anak mulai mengenal ASI. Prinsip tersebut dilanjutkan sampai anak MPASI dan seterusnya.
“Kalau lapar dan haus, nyusu”
“Kalau sudah kenyang, lepas nyusu sendiri”

Continue Reading

You may also like

Responsive Feeding ASI

Tentang Menyusui (ASI)

• FREKUENSI: Pada Penelitian sebagian besar bayi menyusu antara 8 – 12 kali per 24 jam, sebagian lain 18 kali atau 11 – 12 kali per 24 jam
• KANDUNGAN: ASI mengalami perubahan kandungan kadar kalori dan lemak. Kandungan lemak dan kepadatan energi juga lebih tinggi pada siang hari. Dalam cuaca panas, ASI kurang padat energi, sehingga mendorong bayi untuk mengonsumsi lebih banyak susu dengan kandungan air yang lebih tinggi. Ini memengaruhi frekuensi seberapa sering bayi menyusu.
• KONDISI: Kesempatan anak direct breatfeeding (DBF) lebih sedikit pada ibu bekerja dibandingkan full time mom, akan tetapi saat ini teknologi semakin canggih dengan adanya pompa ASI.
• ASI tinggi karbohidrat dan laktosa: MUDAH dan CEPAT DICERNA dibandingkan susu formula.
• Bayi yang diberi ASI juga cenderung mengonsumsi lebih sedikit susu dibandingkan bayi yang diberi susu formula pada setiap pemberiannya.
• Perut bayi memiliki kapasitas maksimum 90ml. 6 bulan pertama bayi membutuhkan sekitar 750ml susu per hari yang berarti kapasitas maksimum setara dengan menyusui setiap tiga jam.

Mengapa Responsive Feeding ASI itu PENTING?

PENTING Untuk Pembentukan dan pemeliharaan pasokan ASI yang baik.

• Semakin banyak ASI dikeluarkan dari payudara (baik oleh bayi atau dipompa), semakin banyak ASI yang diproduksi.
• Tubuh manusia sangat pintar dalam mencocokkan berapa banyak ASI yang dikeluarkan (misalnya berapa banyak yang menurut tubuh dibutuhkan bayi) dengan berapa banyak yang diproduksi.

Manfaat Responsive Feeding ASI

• ASI lebih cepat keluar
• Berat badan lahir kembali lebih cepat (biasa awal akan turun beberapa gram lalu kembali naik lagi)
• Risiko penyakit kuning yang lebih rendah
Sebaliknya, suplementasi dengan susu formula, terutama pada hari-hari dan minggu-minggu awal, dapat menyebabkan Penurunan suplai ASI atau kesulitan dengan pelekatan ke payudara ibu.

Menyusu Malam Hari

Awal baru lahir hingga usia sekitar 2 bulan, bayi masih belajar irama sirkadian, kapan bangun, tidur, menyusu, lapar, haus.
Bayi sering terbangun malam hari dan minta susu. Hal ini wajar dan normal. Manfaatnya antara lain:
• Menyusui di malam hari penting untuk nutrisi bayi dan adaptasi tubuh bayi dan ibu (kadar hormon prolaktin tinggi pada malam hari, produksi susu meningkat)
• Membantu kontrasepsi ibu (Metode Amenore Laktasi). Metode ini menawarkan keamanan kontrasepsi 98% selama bayi diberi makan secara responsif (dan berusia di bawah 6 bulan dan tidak menerima susu formula atau makanan padat).

Responsive Feeding ASI sudah dikenalkan sejak dini, sejak anak mulai mengenal ASI. Prinsip tersebut dilanjutkan sampai anak MPASI dan seterusnya.
“Kalau lapar dan haus, nyusu”
“Kalau sudah kenyang, lepas nyusu sendiri”

Continue Reading

You may also like

Anakku Tumbuh Gigi

Gigi pertama bayi biasanya muncul sekitar usia 4 hingga 6 bulan.
Meskipun tumbuh gigi adalah tonggak perkembangan yang penting, tumbuh gigi itu sering membuat bayi kesakitan.
20 gigi lengkap akan tumbuh antara usia 1 dan 3 tahun, tetapi proses perkembangannya dimulai jauh lebih awal

PROSES TUMBUH GIGI

• Akar Gigi: Sekitar trimester kedua kehamilan, tunas gigi mulai terbentuk di bawah gusi di mulut bayi. Akar mulai tumbuh, mendorong mahkota ke atas.
• Gigi Atas dan Bawah: Gigi pertama yang tumbuh biasanya dua gigi depan bawah (gigi seri tengah), diikuti oleh empat gigi atas (gigi seri tengah dan lateral). Karena ini lebih tipis dengan tepi seperti pisau.
• Geraham: Sekitar usia 1 tahun, geraham pertama akan mulai muncul di bagian belakang mulut kemudian gigi taring
• Sekitar usia 2 tahun, muncul geraham kedua, di belakang set pertama. Gigi geraham adalah gigi yang besar dan lebar sehingga lebih sakit saat tumbuh
• Dalam beberapa kasus, terbentuk kista kebiruan di atas geraham yang belum erupsi. Ketika giginya pecah dan kistanya keluar, mulut akan penuh darah, begitu kantungnya meletus dan cairannya keluar lalu pulih dengan sendirinya

Gejala dan Tanda

Sakit gigi bayi biasanya paling parah pada hari-hari sebelum gigi memotong gusi. Reaksi anak terhadap tumbuh gigi tergantung pada banyak faktor, termasuk toleransi mereka terhadap rasa sakit, kepribadian mereka, dan kepadatan gusi mereka.
• Gusi bengkak.
• Mengunyah, menggigit, dan menghisap. Karena gusi anak teriritasi, Anak akan menggerogoti mainan, pegangan tempat tidur bayi, bahkan pakaiannya.
• Menggosok gusi, telinga, dan pipi mereka. Bayi menggosok gusinya untuk mengurangi tekanan.
• Mengiler. Tidak ada yang tahu mengapa bayi yang tumbuh gigi menghasilkan begitu banyak air liur, tetapi menurut teori bahwa peningkatan gerakan otot di mulut selama periode tumbuh gigi ini mensimulasikan mengunyah, yang mengaktifkan kelenjar ludah.
• Ruam mulut. Basah terus-menerus dari air liur berlebih dapat menyebabkan ruam di sekitar mulut, dagu, atau leher.
• Rewel di malam hari. Namun, perhatikan bahwa jika bayi rewel sepanjang hari dan tampak tidak tertarik pada aktivitas lain, hatihati infeksi telinga
• Nafsu makan berkurang. Beberapa anak kehilangan nafsu makan dan menolak makan atau minum.
• Demam ringan. Ini disebabkan karena peradangan gusi. Jika demam ringan disertai dengan pilek, diare, atau gejala lainnya, hubungi dokter.

Kapan Ke Dokter?

• Demam tinggi, diare, atau muntah
• Gusi berwarna merah atau biru, bukan merah muda (ini biasanya menunjukkan kista erupsi, pembengkakan gusi di atas gigi yang erupsi; meskipun kebanyakan kista jinak, sebaiknya diperiksakan)
• Gusi memiliki lesi atau benjolan
• Penolakan untuk makan dan minum selamalebih dari beberapa jam
• Ruam di tubuh
• Anak tampak sakit

Continue Reading

You may also like

Alergi Susu Sapi

Saat bossbaby tampaknya bereaksi buruk terhadap susu formula bayi, orang tua akan mengira itu alergi susu sapi atau intoleransi laktosa.
Banyak orang mengira alergi susu sapi sama dengan intoleransi laktosa, padahal tidak. Beberapa gejala yang ditimbulkannya mungkin serupa, sehingga bisa membingungkan. Atau mungkin bukan salah satu dari keduanya.

ALERGI SUSU SAPI

• Sebagian besar susu formula bayi terbuat dari susu sapi.
• Susu sapi sendiri tidak dianjurkan sebagai minuman untuk anak-anak di bawah usia 1 tahun. Namun, mulai usia sekitar 6 bulan, saat bayi mulai dikenalkan makanan padat, susu sapi sudah bisa menjadi bahan makanannya.
• Alergi susu sapi adalah salah satu alergi yang paling umum untuk bayi dan anak. Sekitar 2% hingga 7,5% bayi di Inggris berusia di bawah 12 bulan memilikinya.
• Saat sistem kekebalan anak bereaksi terhadap protein dalam susu dan memicu gejala alergi. Itulah yang disebut alergi protein susu sapi.
• Terkadang, tetapi tidak terlalu sering, bayi yang ASI eksklusif dapat mengalami alergi ini. Itu karena susu sapi dari makanan ibu diteruskan ke bayi melalui ASI mereka.

Gejala Alergi Susu Sapi

Gejala dapat muncul dalam beberapa menit setelah mengonsumsi susu sapi/formula. Dalam kasus lain, reaksi dapat muncul sampai berjam-jam atau bahkan berhari-hari sesudahnya. Gejala antara lain:
• Masalah pencernaan, termasuk sakit perut, sakit, diare, dan sembelit
• Reaksi kulit, seperti pembengkakan pada bibir, wajah, dan area mata, serta ruam merah dan gatal
• Gejala seperti demam, seperti hidung meler dan mata berair
• Eksim yang tidak membaik dengan pengobatan
Gejala yang tiba-tiba dan parah berupa pembengkakan mulut atau tenggorokan, mengi, sesak napas, dan kesulitan bernapas – reaksi alergi parah yang disebut anafilaksis, yang juga dapat membuat anak pingsan atau tidak sadarkan diri. Segera ke IGD

APA YANG HARUS DILAKUKAN?
KONSULTASIKAN DENGAN DOKTER. 😊
• ELIMINASI atau penghindaran konsumsi makanan yang mengandung protein susu sapi adalah terapi utama alergi susu sapi.
• Meskipun sangat jarang, bayi yang ASI bisa mengalami alergi susu sapi sebagai reaksi terhadap produk susu yang ibunya makan atau minum. Ibunya yang harus menghindari makanan yang mengandung produk susu sapi

INTOLERANSI LAKTOSA

• Reaksi lain yang berbeda terhadap susu sapi atau susu formula, disebut intoleransi laktosa. Ini terjadi ketika tubuh anak tidak dapat mencerna laktosa, yang merupakan jenis gula alami yang ditemukan dalam susu.
• Sekitar 70% orang di dunia mengalami intoleransi laktosa. Kebanyakan orang-orang dari kelompok etnis Asia, Afrika, dan Hispanik.
• Bayi dan anak kecil juga bisa menjadi tidak toleran sementara terhadap laktosa setelah mereka menderita penyakit perut atau kondisi lain.

Beberapa gejala intoleransi terhadap laktosa mirip dengan gejala alergi susu sapi. Ini mungkin termasuk masalah pencernaan seperti sakit perut, kembung. Diare juga bisa menjadi gejala.

Tatalaksana Intoleransi Laktosa
Konsultasikan dengan Dokter

• Salah satu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui intolerasi laktosa yaitu tes intoleransi laktosa.
• Konsultasikan ke dokter hasilnya. Bayi dan anak kecil perlu mendapatkan nutrisi yang tepat untuk memastikan mereka tumbuh dan berkembang dengan baik.
• Intoleransi laktosa seringkali hanya bersifat sementara bagi banyak bayi dan anak kecil. Gejala mereka akan sering membaik dalam beberapa minggu. Konsultasikan kembali dengan dokter untuk masalah gizinya.

Catatan Penting Lainnya

• Beberapa gejala intoleransi laktosa dan alergi susu umum terjadi pada bayi karena alasan lain, sulit mengetahui sebabnya.
• Refluks. Bayi mengeluarkan susu kembali selama atau setelah menyusu. Pada beberapa bayi, itu bisa sering terjadi dan menyakitkan dan membuat anak sakit perut, tidak nyaman, dan lebih sulit untuk makan dan menambah berat badan.
• Kolik. Ini adalah saat bayi banyak menangis tidak tahu kenapa. Nyeri perut, kembung akibat kolik mirip seperti gejala alergi atau intoleransi terhadap susu.
• Jika bayi atau anak mengalami masalah saat menyusu, berat badannya tidak bertambah, atau menunjukkan gejala lain yang mengkhawatirkan, konsultasikan dengan dokter

Continue Reading

You may also like