Kebiasaan tidur si baby

Tidur adalah suatu tingkah laku yang dapat berubah dan berkembang.

  • Bayi baru lahir tidur jika sudah kenyang.
  • Usia 1 bulan bayi bisa terbangun tanpa menangis.
  • Usia 2-6 bulan butuh tidur 14-16 jam/hari (9-10 jam bobo malam).
  • Usia 7 bulan bisa tidur malam 6 jam, bisa bangun pagi untuk main main tanpa menangis.
  • Usia 9 bulan sudah mulai bisa bobo sepanjang malam.
  • Usia 15-18 bulan tidur malam sudah jadi rutinitas.

 

Sumber

Buku ajar tumbuh kembang anak. 2002

 

Continue Reading

You may also like

Temper Tantrum

Temper tantrum (acting out behaviour) adalah:

  1. Perilaku yang mengganggu atau tidak diinginkan, yang terjadi sebagai respons dari keinginan atau kebutuhan yang tidak terpenuhi
  2. Ledakan emosional ketika kepuasan tertunda, kehilangan kendali emosi
  3. Ketidakmampuan untuk mengontrol emosi yang berkaitan dengan penurunan toleransi terhadap frustasi.

Berikut merupakan beberapa contoh perilaku tantrum menurut tingkatan usia:

  1. Di bawah usia 3 tahun: menangis, menggigit, memukul, menendang, menjerit, memekik, melengkungkan punggung, melemparkan badan ke lantai, memukulkan tangan, menahan napas, membenturkan kepala, dan melempar barang.
  2. Umur 3-4 tahun: perilaku tersebut di atas ditambah dengan menghentakkan kaki, berteriak, meninju, membanting pintu, mengkritik, atau merengek
  3. Umur 5 tahun ke atas: ditambah dengan memaki, menyumpah, memukul kakak, adik, atau temannya, mengkritik diri sendiri, memecahkan barang dengan sengaja atau mengancam

Anak yang belum bisa mengendalikan emosinya secara total, misalnya mengamuk, menjerit, menghentakkan kaki dam melemparkan badannya ke lantai kadang kadang sampai tahap tertentu hal tersebut merupakan perkembangan yang normal. Tantrum biasanya hanya ditujukan kepada orang tuanya. Hal ini merupakan cara yang dilakukan untuk mengungkapkan perasaannya. Orangtua harus mengetahui bagaimana cara menangani tantrum jika hal itu terjadi dan bagaimana cara mencegahnya. Hampir semua anak pernah mengalami tantrum, tetapi pada umur 4 tahun pengendalian diri sebagian besar anak sudah mulai berkembang dan tantrum berhenti dengan sendirinya.

Tantrum adalah rasa marah yang diekspresikan secara imatur, yaitu bila anak mengungkapkan emosinya sebelum mencapau perkembangan emosi anak seusianya. Tidak peduli apakah orang tuanya adalah orang tua yang sabar dan baik hati, anak bisa mengalami masalah tantrum. Saat anak menginjak umur 3 tahun, orang tua bisa mengajarkan kepada anak mereka untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan (“kamu marah karena…”). Orangtua perlu mengajarkan kepada anak bahwa marah itu normal, tetapi harus memiliki korelasi dengan perasaan yang dirasakan. Orangtua harus memperkenalkan berbagai macam emosi pada anak dan mengajarkan kepada mereka bagaimana mengelola perasaannya itu. Misalkan dengan menghitung angka sampai 10 dapat membantu mereka untuk mengontrol perasaan marah tersebut. Pada usia sekolah tantrum jarang terjadi.

Tantrum sering ditemukan lada anak anak yang terlampau dimanjakan (overindulgent), orangtua terlampau pencemas (oversolicitous), atau terlalu melindungi (overprotective). Walaupun tantrum pada mulanya merupakan perasaan tidak senang pada perlakuan fisik, tantrum juga dimaksudkan sebagai suatu usaha untuk mendapatkan hadiah-hadiah (gratifications), atau menguasai keluarganya melalui cetusan marah (outburst), atau merupakan suatu hasil meniru dari orangtua atau anggota keluarga lainnya.

Tantrum biasanya terjadi pada umur 18 bulan-4 tahun. Tantrum ini disebut otonomi diri, yaitu rasa mampu berbuat sesuai kehendak (autonomy of shame and doubt). Pada umur 1-3 tahun, timbul beberapa kebebasan dari ketergantungan total pada orang tua. Kebebasan fisik berupa mulai belajar berjalan dan berlari. Banyak orangtua terkejut dengan bagaimana begitu cepat anak mereka yang sempurna dan bahagia menjadi pemarah. Orangtua perlu memerika apa yang terjadi, yang menyebabkan perubahan perilaku secara mendadak tersebut. Tantrum menjadi lebih buruk dan lebih sering terjadi akibat dari beberapa alasan berikut:

  1. Lapar. Anak lapar akan menjadi galak dan sulit ditenangkan
  2. Sangat kelelahan/mengantuk. Anak yang tidak tidur siang atau tidak mendapatkan tidur cukup pada malam sebelumnya biasanya akan lebih mudah marah
  3. Tidak berdaya. Anak yang tidak mampu untuk menyelesaikan tugasnya (mengancingkan baju, menumpuk balok) akan merasa gagal dan kecewa.
  4. Perubahan mendadak. Anak yang dipaksa berubah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya lebih mudah menjadi marah dan bertingkah laku berlebihan
  5. Mencari perhatian. Seorang anak yang tidak mendapatkan perhatian saat marah kadang dapat membentuk kebiasaan memiliki tantrum
  6. Tidak mendapatkan benda yang diinginkan, membuat anak kecewa atau tersinggung
  7. Benda miliknya diambil secara paksa
  8. Orangtua tidak mengerti apa yang diinginkan atau dikatakan oleh anak membuatnya frustasi. Demikian jika anak tidak mengerti yang dikatakan orangtua.
  9. Anak yang merasa cemas, tertekan atau terganggu
  10. Ketidakmampuan memecahkan masalah mengakibatkan anak kecewa.

Pada umumnya bila kebutuhan emosional dan fisik seorang anak terpenuhi anak jarang bertingkah laku berlebihan

Tatalaksana

Bagaimanapun baiknya orangtua memenuhi kebutuhan fisik dan emosional anak, tetap ada kemungkinan anaknya mengalami tantrum. Jarang anak bertingkah laku berlebihan untuk membuat orangtuanya marah. Perilaku itu mungkin membuat dia sendiri juga takut.

Pada umur tertentu, anak menggunakan tantrum untuk berekspresi. Anak tidak mengetahui bagaimana cara mengekspresikan keinginan mereka. Dengan kesabaran dan cintaa, orangtua dapat membantu anaknya untuk mengekspresikan keinginan mereka melalui kata kata dan menunjukkan kemarahan melalui cara yang sesuai.

Beberapa cara untuk mengontrol tantrum:

  1. Orangtua tetap tenang. Mungkin hal ini sulit untuk dilakukan, tetapi orangtua sebaiknya tetap tenang dan memegang kendali. Hal ini membantu orangtua mengingatkan diri bahwa tantrum adalah hal yang alami dan bukan merupakan suatu reaksi yang buruk untuk mengungkapkan rasa frustasi dan kemarahan. Orangtua marah hanya akan membuat anak tambah binging dan frustasi
  2. Jangan mengubah tidak menjadi ya. Jangan mengubah keputusan yang telah dibuat hanya untuk membuat anak menghentikan tingkah laku tantrumnya. Mengatakan ya hanya akan memberi pemulihan yang bersifat sementara tetapi kekuatan anak akan bertambah karena diizinkan dan akan membuatnya semakin sukit untuk dikendalikan di kemudian hari. Anak akan memeperoleh manfaat bila memiliki orangtua yang menjalankan aturan. Anak harus tahu siapa yang memegang kendali. Bersifat hangat, sungguh-sungguh, dan konsisten adalah dasar dalam membesarkan anak.
  3. Memindahkan anak. Jika anak mengalami tantrum pads tempat keramaian pindahkan anak ke tempat lain yang lebih tenang. Tantrum anak ini dapat menganggu dan memalukan dan tidak ada gunanya untuk membiarkannya tetap di sana. Orangtua dan anak mungkin dapat duduk di dalam mobil sampai anak tenang atau pulang ke rumah
  4. Orangtua yang memindahkan diri. Jika anak ada di tempat yamg aman (misalnya kamar tidur), tinggalkan anak selama beberapa menit dan biarkan dia menjadi tenang. Tanpa penonton untuk “pertunjukannya”, anak akan lebih mudah berhenti
  5. Tenangkan anak. Jika anak mulai menyakiti dirinya selama tantrum (misal memukulkan kepala di lantai), orangtua harus menghentikan setenang mungkin. Tenangkan anak dan selama memeluknya katakan “kamu sangat marah saat ini. Ayah atau ibu tidak akan membiarkanmu melukai diri sendiri. Ayah dan ibu disini dan kami mencintaimu.”
  6. Bicarakan sesudahnya. Jangan mencoba bicara pada anak tentang kelakuannya ketika dia marah. Tunggu sampai tantrumnya hilang, lalu diskusikan dengan anak bagaimana cara mengendalikan marah dan frustasi
  7. Jangan mencoba berbincang untuk meyakinkan anak sepanjang ledakan kemarahannya. Perasaan anak seperti laut emosi yang mendidih, tidak dalam keadaan mental yang siap untuk mendengarkan logika atau alasan.
  8. Jangan mengancam dengan hukuman

Beberapa sikap di bawah ini dapat dicoba pada tipe tipe tantrum yang berbeda:

  1. Berikan dukungan dan bantuan jika anak mengalami frustasi atau mengalami kelelahan akibat tantrum (fatigue related tantrum)
  2. Jangan terlalu memberikan perhatian bila anak mengalami tantrum untuk menarik perhatian (attention seeking) atau mengalami tantrum untuk menuntut sesuatu (demanding type tantrum)
  3. Secara fisik anak anak mengalami tantrum karena merasa dirinya ditolak (refusal type tantrum atau avoidance type tantrum)
  4. Jangan biarkan anak terlalu lama mengalami tantrum yang merusak (disruptive type tantrum)
  5. Pegangilah anak disaat mengalami tantrum yang berbahaya (harmful type tantrum)

Pencegahan

  1. Membiaskan makan tidur secara rutin. Tidak berpergian terlalu jauh/lama. Menghindari telat makan atau kurang tidur
  2. Anak diizinkan untuk memiliki suatu mainan
  3. Menjelaskan apa yang bisa anak lakukan dan jangn diharapkan sesuatu yang sempurna dari anak
  4. Membantu anak untuk mencegah frustasi. Anak dipersiapkan untuk suatu perubahan atau suatu kejadian dengan membicarakannya terlebih dahulu sebelum hal itu terjadi
  5. Membiarkan anak mengetahui aturan yang telah disepakati
  6. Membantu agar anak dapat menerima kekecewaan kecil tanpa berteriak menangis atau tindakan lain yang merusak
  7. Menciptakan coping skills dengan memberikan anak beberapa latihan untuk menunjukkan bagaimana mereka dapat menenangkan dirinya sendiri dan membiarkan anak berhadapan dengan problem sehari hari/frustasinya
  8. Menunjukkan dukungan dan reinforcement terhadap coping skills anak
  9. Ketika telah menemukan inti permasalahan, diharapkan anak dapat mencari jalan untuk mengekspresikan kemarahan secara lebih produktif di masa yang akan datang. Bila orangtua dapat mengajarkan hal hal tersebut secara baik, anak akan dapat mengontrol aktivitasnya dan mempunyai kadar resting cathecolamines yang memadai, sehingga lebih sedikir episode tantrum dan impulsivitas
  10. Mendorong anak untuk menggunakan kata dalam mengungkapkan perasaanya
  11. Mempertahankan kegiatan rutin harian
  12. Menghindari situasi yang membuat anak frustasi
Continue Reading

You may also like

Mengompol pada anak (Enuresis)

Kebanyakan anak sudah mampu mengontrol buang air kecil sejak usia 5 tahun. Apabila terjadi minimal 2x seminggu dalam waktu 3 bulan berturut turut atau kejadian ini mengganggu fungsi sosial, akademik, dan bukan karena efek obat/penyakit tertentu maka anak dikatakan enuresis.

Sebelum memulai pengobatan sebaiknya dilakukan:

  1. Membangunkan anak malam hari untuk ke toilet
  2. Memperbaiki akses ke toilet dengan memasang lampu yang terang menuju toilet
  3. Mengurangi minuman yang dikonsumsi 2 jam sebelum tidur
  4. Melepaskan popok sebelum tidur
  5. Tidak mengkonsumsi minuman berkafein sebelum tidur

Terapi lainnya yaitu

  1. Terapi motivasi misalnya memberikan hadiah bila anak berhasil tidak ngompol. Melakukan kegiatan bersih bersih di pagi hari.
  2. Terapi perilaku antara lain membangunkan anak di malam hari untuk buang air kecil. Belajar menahan kencing di waktu ygblama setelah minum

Terapi obat2an biasanya memerlukan jangka waktu lama (3-6 bulan) dan bisa kambuh kembali serta efek samping yang cukup mengganggu. Obat2an yang dapat diberikan pada enuresis antara lain desmopresin, imipramin, oxybutinin

Continue Reading

You may also like

Isap jempol

Semua bayi terlahir dengan kebiasaan menghisap secara refleks. Bayi menghisap guna memenuhi kebutuhan akan nutrisi (nutritive sucking), yaitu mengisap puting susu ibu atau dot. Seiring dengan pertumbuhannya, bayi akan terbiasa menghisap sebagai usaha untuk mencari ketenangan dan menimbulkan perasaan aman dan senang (nonnutritive sucking), misalnya empeng, ibu jari atau jari lainnya.

Sekitar 80% bayi menghisap ibu jari atau jari jari lainnya, lebih dari setengahnya berhenti spontan pada usia 4-5 tahun. Terdapat 2 refleks penting pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan thumb sucking:

  1. Refleks rooting yaitu gerakan kepala bayi menoleh ke arah objek yang menyentuh pipinya, bisa payudara ibu maupun jari bayi.
  2. Refleks sucking yaitu refleks menghisap yang timbul bila langit langit mulut bayi tersentuh suatu objek. Refleks ini menetap sampai usia 12 bulan

Refleks refleks ini mempunyai arti sebagai interaksi bayi dengan dunia luar sampai berkembangnya cara komunikasi yang lain.

Ada beberapa alasan mengapa thumb sucking dapat berkembang menjadi suatu kebiasaan. Perilaku ini menimbulkan kepuasan emosional, untuk mencari ketenangan atau melepas ketegangan. Beberapa teori psikologi perkembangan dipakai untuk menerangkan kebiasaan thumb sucking ini. Pendapat pertama berdasarkan teori klasik dari Feud yang menganggap thumb sucking sebagai manifestasi seksual infantil yaitu suatu gejala psikopatologi pada bayi selama fase oral.

Pendapat kedua berasal dari teori Erikson. Menurut Erikson, perkembangan mengisap yang normal (nutritive sucking) yang berkembang menjadi suatu kebiasaan thumb sucking mungkin berawal dari penanganan yang tidak sempurna papda fase perkembangan anak sebelumnya. Fase awal perkembangan anak menurut Erikson adalah basic trust. Pada fase ini hubungan orangtua dana anak yang erat akan membantu anak untuk memperkuat kepercayaan terhadap dunia luar di kemudian hari. Fase ini ditandai oleh kecemasan anak bila berpisah dengan orang tua. Sebagai pengganti kenyamanan dan kehangatan orangtua secara tidak disadari (berhubungan dengan nutritive sucking) anak mulai menghisap jarinya. Setelah nutritive sucking berakhir, non nutritive sucking akan melekat menjadi kebiasaan thumb sucking.

Sebagian anak akan menghisap ibu jari menjelang dan selama tidur. Pada anak yang lebih besar, thumb sucking dapat dilakukan ketika anak kelelahan, bosan, frustasi, lapar, stres emosional atau sakit. Pada perkembangan anak tahap lanjut, kebiasaan ini dapat menjadi tanda adanya regresi.

Tatalaksana

Kebanyakan thunb sucking masih dianggap normal dan tidak memerlukan intervensi selama tidak meyebabkan gangguan perkembangan dan gangguan interaksi sosial. Begitu juga, anak yang lebih besar yang hanya sesekali melakukan thumb sucking tidak memerlukan tindakan karena perilaku ini jarang menimbulkan masalah kesehatan.

Umumnya para ahli tidak menganjurkan intervensi terhadap kebiasaan ini sebelum anak berusia 4 sampai 4.5 tahun. Pendekatan tatalaksana ini berdasarkan pada dua alasan.

Pertama ada anggapan bahwa pada kebanyakan kasus kebiasaan thumb sucking inu menghilang secara spontan pada awal pertumbuhan gigi, ketika anak beralih kepada kesenangan lain atau bentuk perilaku yang lebih matang. Data menunjukkan bahwa sekitar 5-10% anak dengan thumb sucking pada usia 5 tahun atau lebih merupakan kebiasaan yang dianggap kronik, kebiasaan ini bisa terjadi di berbagai lokasi yang berbeda dan terjadi pada siang maupun malam.

Kedua alasan psikososial. Kebiasaan ini menyenangkan, mendatangkan kenyamanan, dan menghilangkan ketegangan pada anak anak yang berada dalam dunia yang penuh ketegangan. Kebiasaan ini menetap karena pengulangan secara terus menerus dan anak tidak menyalurkan kesenangannya pada aktivitas lainnya seperti pada anak yang lebih tua. Alasan kedua inu berlebihan karena kebiasaan thumb sucking ini secara tidak sadar belajar dari kebiasaan “kosong”, terjadi ketika tidur, dan tanpa alasan emosional yang mendasari. Penghentian kebiasaan ini tidak membahayakan perkembangan emosional anak dan juga tidak menimbulkan kebiasaan baru seperti menghisap lidah atau menghisap/menggigit bibir.

Penatalaksanaan terhadap thumb sucking harus diberikan bila ada masalah psikologis yang mendasari, gangguan emosi pada anak, ketegangan dalam keluarga, atau masih menetap setelah usia 5 tahun. Beberapa bentuk kebiasaan thumb sucking harus dieliminasi seperti thumb sucking yang berat dan kronik atau bersamaan dengan kebiasaan lain yang harus dihentikan.

Semua intervensi jangan dilakukan secara paksa karena kebiasaan ini tidak memengaruhi kesehatan anak. Menghentikan kebiasaan ini dengan kekerasan akan membuat anak semakin mempertahankannya. Pada beberapa anak kebiasaan ini justru menjadi lebih berat, bahkan mulai beralih sebagau mekanisme mencari perhatian. Pada sebagian kecil thumb sucking, imaturitas emosi muncul kembali. Obyek transisional seperti boneka atau selimut dapat mendatangkan kenyamanan dan menghilangkan ketegangan. Keadaan ini dapat menolong bila anak mengalami stres, ketika anak tersebut masih terlalu muda untuk mengatur emosi mereka. Tantangan bagu dokter spesialis anak, psikolog, dan orangtua adalah membabtu anak mengembangkan kesenangan lain dan bentuk perilaku yang lebih matur.

Metode terapi

Jangan menggunakan kontak fisik, seperti menarik tangan anak dari mulutnya, memukul atau menarik rambut anak. Tindakan seperti ini hanya akan memperburuk keadaan. Anak yang lebuh besar dapat dinasehati. Bicarakan penghentian kebiasaan ini pada saat anak tidak dalam keadaan stres, sedih, ataupun sakit. Berikan peringatan halus pada waktu kebiasaan tersebut berlanjut dan beri penghargaan bila anak tidak melakukannya

Hal yang bisa dicoba

  1. Memasang band aid, thumb guard, atau thumb splints untuk membungkus jarinya
  2. Memakaikan sarung tangan
  3. Memuji dan memberi penghargaan bila mereka tidak menggigit jarinya

Umumnya anak akan menghentikan kebiasaan ini di siang hari sebeluk mereka memasuki usiansekolah. Seringkali kebiasaan ini masih mungkin berlanjut pada malam hari sewaktu anak pergi tidur ataupun saat mereka sedih.

Continue Reading

You may also like