Gerakan Tutup Mulut

Hal hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak yang sulit makan antara lain:

  1. Menetapkan jadual makan dan mentaati jadual tersebut. Anak duduk saat makan dan waktu pemberian makan dibatasi selama sekitar 15 sd 20 menit
  2. Menghindari pengalihan perhatian seperti mainan atau televisi sepanjang waktu makan
  3. Menawarkan porsi yang terbatas untuk masing masing variasi makanan
  4. Memberikan sedikit minuman setelah anak mulai makan. Pemberian susu diberikan setelah anak selesai makan
  5. Tidak memberikan juice buah atau snack diantara waktu makan
  6. Jangan memaksa anak untuk makan. Cobalah untuk tetap tenang. Perasaan netral akan lebih efektif dibandingkan memarahi atau memuji berlebihan

Tatalaksana bersama tim rehabilitasi medis/fisioterapi yang dilakukan pada anak sulit makan antara lain dengan intervensi:

  1. Desensitisasi area mulut
  2. Latihan meningkatkan tonus otot yang digunakan untuk menghisap
  3. Perawatan esofagitis dan refluks gastroesofageal
  4. Pada anak dengan gangguan neurodevelopmental dilakukakan: memposisikan anak agara tonus otot normal, melakukan latihan oral untuk meningkatkan keteramlilan oromotor, terapi perilaku dan pola makan sesuai contoh. Pada anak dengan kelaianan neurodevelopmental berat diperlukan pelatihan buat pengasuhnya tentang tekhnik relaksasi, manajemen waktu dan pengaturan istirahat

Intervensi gizi

Jika anak mengalami kurang gizi, perlu dilakukan koreksi gizi sebelum dilakukan modifikasi perilaku. Kebutuhan energi untuk memperbaiki status gizi dapat dihitung sebagai berikut:

Kkal/kg/hari = [BB ideal sesuai umur (kg) x kkal/kg/hari (BB/U)] : BB sekarang (kg)

Memperbaiki/mengoreksi gangguan gizi yang telah terjadi dapat dilakukan dengan cara:

  1. Melakukan pengelolaan pemberian makan, termasuk memperbaiki jenis dan jumlah makanan yang diberikan, pengaturan jadual dan cara pemberiaan makanan, pengaturan perilaku dan suasana makan anak
  2. Mengoreksi keadaan defisiensi gizi yang ditemukan
  3. Penggunaan obat perangsang nafsu makan sebaiknya dihindari
Continue Reading

You may also like

Inisiasi menyusu dini

Setiap ibu dan bayi memiliki intuisi tidak hanya saat melahirkan namun juga menyusui. Walaupun awalnya canggung, proses menyusui akhirnya akan berhasil.

Inisiasi menyusu dini

Bayi yang baru dilahirkan akan memiliki intuisi dan refleks yang akan membantunya untuk mencari puting dan akhirnya melekat (latch on), ibu senantiasa punya intuisi untuk membantunya melekat.

Berbaring setengah duduk di posisi yang nyaman baik untuk ibu dan bayi. Awalnya bayi akan belajar beradaptasi setelah sebelumnya berada nyaman dalam kandungan. Bayi tampak mulai ingin menghisap (sucking), ngences (drooling), atau membuat gerakan sucking dengan bibirnya, mengepalkan tangan ke mulut atau menjilat. Bayi mencari puting dengan perasaan dan bau, bukan dengan penglihatan. Kadang kadang bayi tampak seperti mau jatuh, itu bagian dari proses. Ketika bayi sudah hampir mencapai puting, dia akan membuka mulutnya lebar, kemudian mulai menyusu.

IMD merupakan stimulasi pertama yqng dapat kita lakukan untuk bayi.

Continue Reading

You may also like

Perkembangan bahasa

Kemampuan bicara memerlukan keterampilan intelektual dan motorik, jadi tidak hanya merupakan koordinasi otot otot pembentuk suara tapi juga kemampuan mengaitkan arti dari bunyi yang dihasilkan.

Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak, karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kelainan pada sistem lainnya, seperti kemampuan kognitif, sensorimotor, psikologis, emosi, dan lingkungan di sekitar anak. Rangsangan sensoris yang berasal dari pendengaran (auditory expressive & receptive language development) sangat penting dalam perkembangan bahasa. Seorang anak tidak akan mampu berbicara tanpa dukungan lingkungannya. Mereka harus mendengar dan melihat pembicaraan yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari maupun pengetahuan tentang dunia di sekitarnya. Mereka harus belajar mengekspresikan diri, membagi pengalaman dengan orang lain, dan mengemukakan keinginannya.

Menurut teori neuropsikolinguistik, berbahasa adalah interaksi yang kompleks antara fungsi otak (korteks serebri), semantik dan pragmatik, fonologi, grammar dan organ yang memproduksi bahasa. Sistem ini saling berhubungan, bila salah satu mengalami masalah akan terjadi gangguan bicara. Salah satu petunjuk untuk menilai kepandaian anak berbicara adalah rumus 4S, yaitu umur anak dibagu 4 (dalam tahun) merupakan proporsi kata yang bisa dipahami pendengar dari seluruh kata kata yang diucapkan oleh anak. Anak umur 1 tahun sebanyak 1/4 S, artinya seperempat kalimat yg diucapkan dimengerti pendengar.

Keterampilan mengartikulasikan suara juga mengikuti pola tertentu. Yang pertama kali muncul adalah suara paling mudah, yaitu suara bibir (dinyatakan dalam huruf m, p, b, v, o). Berikutnya yang terdengar adalag suara sederhana yang dihasilkan oleh lidah dan gusi (d, n, t). Ketika anak mulai menguasai kontak lidah palatum (g, k, ng), sering mereka bingung membedakan d dengan g, serta t dengan k, terutama bila keduanya muncul dalam 1 kata (misalnya dagu diucapkan dadu atau gagu). Jenis duplikasi fonetik ini sering terjadi pada umur 2 tahun dan dapat terjadi pada umur 3 tahun. Ketika anaj belajar membuat perbedaan suara, mereka juha belajar mengendalikan motorik untuk pola bicara yang lebih kompleks dan daoat mengucapkan huruf f, v, s, dan z. Karena suara suara itu mirip, anak umur 3 tahun dapat keliru menyebut f untuk s atau v untuk z.

Pengendalian untuk berbagau bunyi ucapan biasanya dikuasai lebih dulu pad awal kata kata. Anak umur 2 tahun mungkin menghilangkan suara pada akhir kata; anak umur 3 tahun dapat terpeleset pada bunyi di tengah kata, dan anak umur 4-5 tahun dapat mengalami kesulitan dengan kata yang lebih kompleks. Kesalahan artikulasi dapat terjadi sampai batas umur 7 tahun. Anak umur 4 tahun adalah penerima bahasa ibu yang baik, walaupun masih terdapat kesalahan artikulasi, tetapi ucapannya cukup dapat dimengerti dan telah menguasai dasar sintaks, fonetik, dan semantik (arti kata).

Tahapan Perkembangan Bahasa

  1. Reflective vocalization. Pada bayi baru lahir, dengan caranya sendiri, bayi akan “berbicara”. Pada umur ini, bayi masih belum mampu membedakan berbagai macam stimuli dari luar serta belum mampu bereaksi secara spesifik terhadap stimuli yang berbeda beda, sehingga bayi akan menangis terhadap semua stimuli yang diterimanya. Tangusan bayi dan vokalisasi selama 2-3 minggu pertama dalam hiduonya bersifat reflektif. Vokalisasi terjadi akibat udara yang secara refleks keluar dari paru lewat pita suara sehingga terbentuk suara. Suara yang terbentuk tidak mempunyai arti sama sekali. Pada akhir minggu kedua atau ketiga, ibu sudah dapat membedakan arti tangisan bayi. Bayi sudah dapat memberikan reaksi berbeda terhadap stimuli yang diterimanya, sudah ada rasa tertarik terhadap wajah dan orang sekitarnya, karena sudah mulai terjadu maturasi baik fisik maupun mental. Pada umur 2-4 bulan, bayi sudah bisa cooing (seperti suara burung merpati)
  2. Babbling. Pada umur 6-7minggu, bayi sudah mulai menunjukkan reaksi terhadap suara yang dibuatnya. Bayi menyenangi suaranya dan menghibur dirinya dengan suara. Coos gurgles, dan permainan suara umum lainnya akana diikuti oleh perkembangan bicara baru yang disebut babbling pada umur sekitar 4-9 bulan. Suara yang ditimbulkan bermacam-macam, mukai dari vokal lalu konsonan, dan kombinasi keduanya. Vokal seperti “a” akan diulang ulang dalam nada dan kekerasan yang berbeda. Kemudian muncul suara konsonan labial “p” dan “b” (guttural), “g” (dental), dan terakhir nasal “n”. Pada umur 6 bulan bayi sudah memberikan reaksi kalau dipanggil namanya atau menoleh ke arah sumber suara.
  3. Lalling. Sampai dengan tahap babbling, perkembangan pendengaran dan bahasa sama pada anak tuli dan anak yang tidak tuli. Karena masih bersifat reflektif dan respons terhadap stimuli internal, babbling terjadi baik pada anak yang tuli maupun yang tidak tuli. Setelah tahapan babbling, akan terjadi perbedaan perkembangan bahasa antara anak tuli dan tidak tuli. Mulai dari tahapan lalling, pendengaran mempunyai peran penting. Lalling adalah pengulangan (repetition) suara atau kombinasi suara yang didengar seperti ba-ba, ma-ma, gub-gub. Lalling biasanya mulai pada sekitar umur 6 bulan. Pada lalling, yang penting adalah terdapat hubungan yang bermakna antara produksi suara dan pendengaran.
  4. Echolalia. Sekitar umur 9-10 bulan, anak sudah bisa meniru (imitation) suara yang dibuat orang lain dan suara yang sering didengarnya. Pada tahapan lalling, yang akan ditiru pertama kalo adalah suara yang dimengerti anak. Pada saat ini, anak sudah siap untuk menirukan segala macam suara. Mereka akan memilih suara mana yang mudah untuk ditiru dan yanh tidak mudah ditiru (suara yang membingungkan).
  5. True speech. Pada sekitar umur 12-13 bulan, rata rata anak sudah mulai bisa bicara. Ada anak yang lambat, ada anak yang cepat bicara. Yang dimaksud bicara adalah anak dengan sengaja menggunakan pola bunyi konvensional (kata-kata), yang merupakan respons terhadap situasi tertentu dari lingkungannya. Sebelim anak bisa bicara, anak harus mengerti dulu apa yang dikatakan orang lain (verbal understanding). Keadaan ini menunjukkan bahwa anak telah merespon baik secara mental maupun motorik terhadap kata kata yang diucapkan orang lain. Kalau anak mampu mengerti (verbal understanding), mereka akan lebih cepat untuk dapat berbicara.

Pada anak usia 18-24 bulan, kadang kadang kosa katanya telah mencapai 30-60 kata dan kecepatan anak dalam mempelajari bahasa meningkat dramatis. Anak belajar rata rata 3-4 kata per hari, dan mulai mengkombinasikan kata ke dalam suatu frase yang terdiri dari 2 kata. Ketika kalimat panjang bertambah, anak mulai menguasai elemen struktur bahasa lebih spesifik, termasuk kata ganti, kata tanya, dan kata kerja. Pada umur 3 tahun, pemahamannya sudah sangat baik, yaitu anak sudah dapat membuat kalimat terdiri dari 3 atau beberapa suku kata, anak mulai bertanya dengan menggunakan kata tanya “apa”, kemudian menggunakam kata tanya “mengapa”, dan akhirnya anak dapat terlibat dalam percakapan singkat. Pada umur 4-5 tahun, anak dapat menyusun kalimat yang kompleks, berpartisipasi dalam percakapan yang lebih bermakna, dan menuturkan cerita singkat.

Continue Reading

You may also like

Perkembangan Kognitif

Perkembangan kecerdasan setiap anak dipengaruhi berbagai macam faktor, antara lain genetik, stimulasi dan nutrisi. Beberapa nutrisi yang penting untuk perkembangan otak antara lain LCPUFA asam lemak rantai panjang, asam arakhidonat, DHA, kolin, taurin, yodium dan zat besi.

Pertumbuhan otak tercepat terjadi pada trimester ketiga kehamilan sampai 2 tahun pertama setelah lahir. Pada usia 2 tahun ukuran otak anak mencapai 80% dari ukuran otak dewasa.

DHA dan AA secara alami terdapat dalam ASI. DHA adalah komponen pembentuk otak yang penting dalam mengoptimalkan perkembangan otak, jaringan saraf, dan jaringan penglihatan bagi bayi. Taurin merupakan asam amino esensial yg diperlukan untuk perkembangan mata, otak, serta konjugasi bilirubin. Pada bayi prematur, suplementasi taurin dapat membantu maturasi sistem pendengaran.

Tahap perkembangan kognitif menurut Piaget:

  1. Tahap sensori motor (0 sd 24 bulan)
  2. Tahap praoperasional (2-7 tahun)
  3. Tahap operasional konkret (7-11 tahun)
  4. Tahap operasional formal (>11 tahun)

Secara keseluruhan, perkembangan milestone kognitif anak dari sejak lahir dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Pada usia 0-3 bulan anak belajar melakukan kontak mata, dan menangis dengan nada yg berbeda apabila, ingin digendong, popoknya basah atau lapar

Usia 3-6 bulan bayi semakin tertarik pada lingkungannya, mencari mainan

Usia 6-9 bulan, mulai tertarik pada bagian tubuhnya, memahami objek, memahami naik dan turun, mencari mainan/objek atau benda

Usia 9-12 bulan menemukan benda yg disembunyikan, menirukan gerakan tubuh dengan mudah, mulai eksplorasi sekitar, ingin tahu dan menyentuh apa saja, menunjukkan ketertarikan pada buku gambar

Usia 12-18 bulan membedakan bentuk dan warna, berespon terhadap instruksi sederhana

Usia 18-24 tahun dapat membantu/meniru kegiatan orang tuanya, sudah mulai mengenal anggota bagian tubuh, eksplorasi lingkungan.

Usia 24-36 bulan sudah bisa menunjukkan nama 2 anggota badan, sudah bisa menyebutkan dengan benar 2 gambar, mulai dapat menggabungkan 2-3 kata menjadi 1 kalimat, sudah mulai menggunakan nama sendiri untuk menyebut dirinya

Usia 36-48 bulan sudah mulai hapal warna, sudah tau umurnya, sudah mengerti arti kata di atas, depan, atau bawah. Sudah bisa menaati aturan dalam permainan, sudah bisa pakai baju dan sepatu sendiri

Continue Reading

You may also like

Stimulasi Anak Usia 4 Tahun

MOTORIK KASAR

Tahapan perkembangan
1. Berdiri 1 kaki 6 detik.
2. Melompat-lompat 1 kaki.

Stimulasi
1. Stimulasi yang perlu dilanjutkan:
Dorong anak berlari, melompat, berdiri di atas satu kaki, memanjat, bermain bola,
Lompat jauh, jalan di atas papan sempit / permainan keseimbangan tubuh, berayun-ayun.
2. Lomba Karung. Ambil karung/ kain sarung yang cukup lebar untuk menutup bagian bawah tubuh dan kedua kaki anak. Tunjukkan pada anak dan teman-temannya cara memakai karung dan melompat lompat, siapa yang paling cepat/ dulu sampai garis tujuan.
3. Main engklek. Gambar kotak-kotak permainan engklek di lantai. Ajari anak dan teman-temannya cara bermain engklek.
4. Melompat tali. Pada waktu anak bermain dengan teman sebayanya, tunjuk dua anak untuk memegang tali rapiah ( panjang 1 meter) , atur jarak dari tanah , jangan terlalu tinggi. Tunjukkan kepada anak cara melompat tali dan bermain “katak melompat”.

MOTORIK HALUS

Tahapan perkembangan:

1. Menari.
2. Menggambar tanda silang.
3. Menggambar lingkaran.
4. Menggambar orang dengan 3 bagian tubuh.
5. Mengancing baju atau pakaian boneka.

Stimulasi
1. Ajak anak bermain puzzle, menggambar, menghitung, memilih den mengelompokkan, memotong dan menempel gambar. Ajak anak membuat buku kegiatan keluarga dengan mengumpulkan foto/gambar anggota keluarga, benda-benda dari berbagai tempat yang pemah dikunjungi anak, dan sebagainya.
2. Menggambar
Ketika anak sedang menggambar, minta anak melengkapi gambar tersebut, misal: menggambar baju pada gambar orang, menggambar pohon, bunga, matahari, pagar pada gambar rumah, dan sebagainya
3. Mencocokkan dan menghitung.
Bila anak sudah bisa berhitung dan kenal angka, buat 1 set kartu yang ditulisi angka 1-10. Letakkan kartu itu berurutan di atas meja. Minta anak menghitung benda-benda kecil yang ada di rumah seperti: kacang, batu kerikil, biji sawo dan lain-lain, sejumlah angka yang tertera pada kartu. Kemudian letakkan benda-benda tersebut di dekat kartu angka yang cocok.
4. Menggunting.
Bila anak sudah bisa memakai gunting tumpul, ajari cara menggunting kertas yang sudah dilipat-lipat, membuat suatu bentuk seperti rumbai-rumbai, orang, binatang, mobil dari sebagainya.
5. Membandingkan besar/kecil,banyak/sedikit, berat/ringan. Ajak anak bermain menyusun 3 buah piring
berbeda ukuran atau 3 gelas diisi air dengan isi tidak sama. Minta anak menyusun piring/gelas tersebut dari yang ukuran kecil/jumlah sedikit ke besar/banyak atau dari ringan ke berat. Bila anak dapat menyusun ketiga benda itu, tambah jumlahnya menjadi 4 atau lebih.
6. Percobaan ilmiah.
Sediakan 3 gelas isi air. Pada gelas pertama tambahkan 1 sendok teh gula pasir dan bantu anak ketika mengaduk gula tersebut. Pada gelas kedua masukkan gabus dan pada gelas ketiga masukkan kelereng. Bicarakan mengenai hasilnya ketika anak melakukan “percobaan” ini.
7. Berkebun.
Ajak anak menanam biji kacang tanah/kacang hijau di kaleng /gelas aqua bekas yang telah diisi tanah. Bantu anak menyirami tanaman tersebut setiap hari. Ajak anak memperhatikan pertumbuhannya dari hari ke hari. Bicarakan mengenai bagaimana tanaman, binatang dan anak-anak tumbuh/bertambah besar.

BICARA BAHASA

Tahapan Perkembangan
1. Menyebut nama lengkap tanpa dibantu.
2. Senang menyebut kata-kata baru.
3. Senang bertanya tentang sesuatu.
4. Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar.
5. Bicaranya mudah dimengerti.
6. Bisa membandingkan/membedakan sesuatu dari ukuran dan bentuknya.
7. Menyebut angka, menghitung jari.
8. Menyebut nama-nama hari.

Stimulasi
1. Buku kegiatan keluarga.
Ajak anak membuat buku kegiatan keluarga dengan mengumpulkan foto/gambar anggota keluarga, benda-benda dari berbagai tempat yang pemah dikunjungi anak, dan sebagainya.
2. Mengenal huruf dan simbol.
Tulis nama benda-benda yang ada di ruang-an pada sepotong kertas kecil. Kemudian tempel kertas tersebut pada setiap benda, misalnya: tulisan meja ditempel di meja, tulisan buku, bunga, bantal dan sebagainya. Minta anak menyebutkan tulisan di kertas tersebut. Ajari anak mengenali tanda-tanda di sepanjang jalan.
3. Belajar mengingat-ingat.
Masukkan sejumlah benda kecil/mainan anak ke sebuah kantung. Minta anak memperhatikan anda ketika anda mengambil 3- 4 macam benda kecil/dari kantung tersebut. Letakkan di atas meja dan minta anak menyebut nama benda/mainan satu persatu. Kemudian, minta anak menutup matanya, dan ambil salah satu benda tadi. Tanyakan kepada anak benda apa yang hilang. Bila ia sudah menguasai permainan ini,tambahkan jumlah benda yang diletakkan di meja.
4. Melengkapi kalimat.
Buat kalimat pemyataan mengenai apa yang anda dan anak lakukan bersama dan minta anak
menyelesaikannya. Misalnya sehabis mengajak anak ke kebun binatang; “Kemarin kami pergi ke……: atau sehabis mengajak anak makan mie bakso” Makanan kesukaan adik adalah…?
5. Bercerita “ketika saya masih kecil”.
Anak senang mendengar cerita tentang masa kecil orangtuanya dan senang bercerita tentang masa kecil anak. Ceritakan kepada anak masa kecil anda dan selanjutnya minta anak menceritakan masa kecilnya.
6. Mengenal angka
Bantu anak mengenali angka dan berhitung. Ajak anak bermain kartu, gunakan kartu angka 2-10.
7. Buat anak mau bertanya dan bercerita tentang apa yang dilihat dan didengarnya.
8. Dorong anak sering melihat buku. Buat agar ia melihat anda membaca buku.
9. Bantu anak dalam memilih acara TV, batasi waktu menonton TV maksimal 2 jam sehari. Dampingi anak menonton TV dan jelaskan kejadian yang baik dan buruk. lngat bahwa acara dan berita di TV dapat berpengaruh buruk pada anak.
10. Mengenal musim.
Bantu anak mengenal musim hujan dan kemarau. Bicarakan apa yang terjadi pada kedua musim itu, pengaruhnya terhadap tanaman, binatang dan alam sekitamya.
11. Membantu pekerjaan di dapur.
Katakan pada anak bahwa anda mengangkatnya sebagai “asisten” anda. Minta anak membantu memotong sayuran, menyiapkan dan membersihkan meja makan, dan lain-lain. Buat agar anak mau menjelaskan apa yang sedang dilakukannya. Katakan betapa menyenangkan dapat membantu sesama dan mengerjakan sesuatu dengan baik.

SOSIALISASI DAN KEMANDIRIAN

Tahapan Perkembangan
1. Berpakaian sendiri tanpa dibantu.
2. Bereaksi tenang dan tidak rewel ketika ditinggal ibu.

Stimulasi :
1. Berikan tugas rutin pada anak dalam kegiatan di rumah, ajak anak membantu anda di dapur dan makan bersama keluarga.
2. Buat agar anak bermain dengan teman sebayanya.
3. Ajak anak berbicara tentang apa yang dirasakan anak.
4. Bersama-sama anak buatlah rencana jalan-jalan sesering mungkin.
5. Membentuk kemandirian.
Beri kesempatan pada anak untuk mengunjungi tetangga dekat, teman atau saudara tanpa ditemani Anda. Selanjutnya minta anak bercerita tentang kunjungannya itu.
6. Mengikuti aturan permainan/petunjuk.
Ajak anak bermain sekaligus belajar mengikuti aturan/petunjuk permainan. Pada awal permainan, beri perintah kepada anak, misalnya “berjalan 3 langkah besar ke depan atau berjalan mundur 5 langkah. Setiap kali akan menjalankan perintah itu, minta anak mengatakan: “Bolehkah saya memulainya?” Setelah anak bisa memainkan permainan ini, bergantian anak yang memberikan perintah dan anda yang mengatakan: “Bolehkah saya memulainya.
7. Membuat “album” keluarga.
Bantu anak membuat album keluarga yang ditempeli dengan foto-foto anggota keluarga. Tulis nama setiap orang di bawah fotonya.

8. Membuat “boneka”.
Tunjukkan cara membuat “boneka” dari kertas. Gambar bagian muka dengan spidol. Agar dapat berdiri tegak, pasang lidi sebagai “rangka/badan” boneka. Atau buat “boneka” dari kaos kaki bekas. Gambar mata, hidung dan mulut. Gerakkan jari-jari tangan anda seolah-olah boneka itu dapat berbicara. Buat agar anak mau bermain dengan temannya selain bermain sendiri.
9. Menggambar orang.
Tunjukkan pada anak cara menggambar orang pada selembar kertas. Jelaskan ketika anda menggambar mata, hidung, bibir dan baju.
10. Bermain kreatif dengan teman-temannya.
Undang ke rumah 2-3 anak yang sebaya. Ajari anak-anak permainan dengan bemyanyi, membuat boneka dari kertas/kaos kaki bekas dan kemudian memainkannya. Minta anak mau menirukan tingkah laku binatang seperti yang dilihatnya di kebun binatang.
11. Bermain “berjualan dan berbelanja di toko”.
Kumpulkan benda-benda yang ada di rumah seperti sepatu, sendal, buku, mainan, majalah, dan sebagainya untuk bermain “belanja di toko”. Tulis harga setiap benda pada secarik kertas kecil. Buat “uang kertas” dari potongan kertas dan uang logam” dari kancing/tutup botol. Kemudian minta anak berperan sebagai pemilik toko, anda dan anak yang lain pura-pura membeli benda-benda itu dengan “uang kertas” dan “uang logam”. Selanjutnya secara bergantian anak-anak menjadi pembeli dan pemilik toko.

Continue Reading

You may also like