Alergi Susu Sapi

Saat bossbaby tampaknya bereaksi buruk terhadap susu formula bayi, orang tua akan mengira itu alergi susu sapi atau intoleransi laktosa.
Banyak orang mengira alergi susu sapi sama dengan intoleransi laktosa, padahal tidak. Beberapa gejala yang ditimbulkannya mungkin serupa, sehingga bisa membingungkan. Atau mungkin bukan salah satu dari keduanya.

ALERGI SUSU SAPI

• Sebagian besar susu formula bayi terbuat dari susu sapi.
• Susu sapi sendiri tidak dianjurkan sebagai minuman untuk anak-anak di bawah usia 1 tahun. Namun, mulai usia sekitar 6 bulan, saat bayi mulai dikenalkan makanan padat, susu sapi sudah bisa menjadi bahan makanannya.
• Alergi susu sapi adalah salah satu alergi yang paling umum untuk bayi dan anak. Sekitar 2% hingga 7,5% bayi di Inggris berusia di bawah 12 bulan memilikinya.
• Saat sistem kekebalan anak bereaksi terhadap protein dalam susu dan memicu gejala alergi. Itulah yang disebut alergi protein susu sapi.
• Terkadang, tetapi tidak terlalu sering, bayi yang ASI eksklusif dapat mengalami alergi ini. Itu karena susu sapi dari makanan ibu diteruskan ke bayi melalui ASI mereka.

Gejala Alergi Susu Sapi

Gejala dapat muncul dalam beberapa menit setelah mengonsumsi susu sapi/formula. Dalam kasus lain, reaksi dapat muncul sampai berjam-jam atau bahkan berhari-hari sesudahnya. Gejala antara lain:
• Masalah pencernaan, termasuk sakit perut, sakit, diare, dan sembelit
• Reaksi kulit, seperti pembengkakan pada bibir, wajah, dan area mata, serta ruam merah dan gatal
• Gejala seperti demam, seperti hidung meler dan mata berair
• Eksim yang tidak membaik dengan pengobatan
Gejala yang tiba-tiba dan parah berupa pembengkakan mulut atau tenggorokan, mengi, sesak napas, dan kesulitan bernapas – reaksi alergi parah yang disebut anafilaksis, yang juga dapat membuat anak pingsan atau tidak sadarkan diri. Segera ke IGD

APA YANG HARUS DILAKUKAN?
KONSULTASIKAN DENGAN DOKTER. 😊
• ELIMINASI atau penghindaran konsumsi makanan yang mengandung protein susu sapi adalah terapi utama alergi susu sapi.
• Meskipun sangat jarang, bayi yang ASI bisa mengalami alergi susu sapi sebagai reaksi terhadap produk susu yang ibunya makan atau minum. Ibunya yang harus menghindari makanan yang mengandung produk susu sapi

INTOLERANSI LAKTOSA

• Reaksi lain yang berbeda terhadap susu sapi atau susu formula, disebut intoleransi laktosa. Ini terjadi ketika tubuh anak tidak dapat mencerna laktosa, yang merupakan jenis gula alami yang ditemukan dalam susu.
• Sekitar 70% orang di dunia mengalami intoleransi laktosa. Kebanyakan orang-orang dari kelompok etnis Asia, Afrika, dan Hispanik.
• Bayi dan anak kecil juga bisa menjadi tidak toleran sementara terhadap laktosa setelah mereka menderita penyakit perut atau kondisi lain.

Beberapa gejala intoleransi terhadap laktosa mirip dengan gejala alergi susu sapi. Ini mungkin termasuk masalah pencernaan seperti sakit perut, kembung. Diare juga bisa menjadi gejala.

Tatalaksana Intoleransi Laktosa
Konsultasikan dengan Dokter

• Salah satu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui intolerasi laktosa yaitu tes intoleransi laktosa.
• Konsultasikan ke dokter hasilnya. Bayi dan anak kecil perlu mendapatkan nutrisi yang tepat untuk memastikan mereka tumbuh dan berkembang dengan baik.
• Intoleransi laktosa seringkali hanya bersifat sementara bagi banyak bayi dan anak kecil. Gejala mereka akan sering membaik dalam beberapa minggu. Konsultasikan kembali dengan dokter untuk masalah gizinya.

Catatan Penting Lainnya

• Beberapa gejala intoleransi laktosa dan alergi susu umum terjadi pada bayi karena alasan lain, sulit mengetahui sebabnya.
• Refluks. Bayi mengeluarkan susu kembali selama atau setelah menyusu. Pada beberapa bayi, itu bisa sering terjadi dan menyakitkan dan membuat anak sakit perut, tidak nyaman, dan lebih sulit untuk makan dan menambah berat badan.
• Kolik. Ini adalah saat bayi banyak menangis tidak tahu kenapa. Nyeri perut, kembung akibat kolik mirip seperti gejala alergi atau intoleransi terhadap susu.
• Jika bayi atau anak mengalami masalah saat menyusu, berat badannya tidak bertambah, atau menunjukkan gejala lain yang mengkhawatirkan, konsultasikan dengan dokter

Artikel lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *